Rabu, 05 Agustus 2015

BACAAN INJIL DAN RENUNGAN: MARKUS 9:2-10, PESTA PENAMPAKAN KEMULIAAN, KAMIS, 6 AGUSTUS 2015

Mrk 9:2
Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka,
Mrk 9:3
dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu.
Mrk 9:4
Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus.
Mrk 9:5
Kata Petrus kepada Yesus: "Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."
Mrk 9:6
Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan.
Mrk 9:7
Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia."
Mrk 9:8
Dan sekonyong-konyong waktu mereka memandang sekeliling mereka, mereka tidak melihat seorangpun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri.
Mrk 9:9
Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorangpun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati.
Mrk 9:10
Mereka memegang pesan tadi sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan "bangkit dari antara orang mati."



MELALUI TABOR KITA MENUJU GOLGOTA 

Dalam bacaan injil yang akan kita renungkan ini, mengisahkan tentang peristiwa transfigurasi Yesus di atas gunung Tabor. Bagi ketiga rasul, Petrus, Yakobus Dan Yohanes peristiwa Tabor adalah zona yang paling nyaman untuk mereka. Saking nyamannya sampai Petrus meminta kepada Yesus untuk mendirikan 3 kemah di atas gunung Tabor. Petrus dan teman-temannya terlena dalam zona nyaman di atas tabor dan tidak mau beranjak dari situasi itu. Yesus tidak membiarkan para murid terlalu lama merasakan kenyamanan di atas gunung Tabor. Dia mengajak mereka turun gunung. Misi Yesus harus mencapai bukit Golgota dan para murid harus terlibat pada perjuangan-Nya yang pahit. Yesus ingin mengajar para murid bahwa kenyamanan di atas Tabor tidak berarti apa-apa. Yesus sendiri rela meninggalkan zona nyaman dan masuk dalam zona yang bagi kebanyakan orang tidak nyaman yaitu mati di salib. Ajakan Yesus untuk turun gunung merupakan pelajaran yang penting bagi para murid. Ternyata para murid butuh waktu untuk dapat memahami misteri sengsara wafat dan kebangkitan Yesus yang terjadi demi keselamatan umat. Mereka belum mengerti bahwa kemuliaan Golgota lebih agung dari kemuliaan Tabor. Mereka memulai perjuangan mengikuti Yesus dengan gambaran untuk memperoleh kenyamanan. Mereka tidak siap untuk melihat tokoh tumpuan harapan mereka mati di kayu salib misi Sang Guru. Mereka harus melewati periode terguncang sebelum akhirnya dengan penuh keberanian memberi kesaksian iman sampai menyerahkan hidup mereka. Ada tabor, ada golgota. Ada kebahagiaan, pasti ada panderitaan. Kebahagiaan hanya akan menjadi berarti bila itu dicapai melalui penderitaan, melalui usaha yang keras, melalui darah dan air mata.

Apakah kita sekalian telah berani untuk meninggalkan zona nyaman, zona Tabor dalam hidup kita dan berani untuk bergerak menuju ke golgota? Mungkin kita lebih senang mencari enaknya sendiri tanpa peduli dengan situasi yang ada di sekitar kita. Seorang bapak bisa saja mencari tabor di tempat lain, dan membiarkan anak dan istri berada dalam zona yang tidak nyaman. Seorang istri bisa saja lebih asyik dengan tabor2nya yang tersebar di mall-mall dan pusat pembelajaan dan lupa memperhitungan penghasilan suaminya. Seorang anak bisa jadi lebih merasa bahwa tabornya ada pada fb, twiter, video game ketimbang pada buku pelajarannya. Masih ada banyak tabor-tabor yang lain yang ada dalam hidup kita, Yesus mengajak kita untuk turun dan berjalan bersama Dia menuju golgota. Bila kita belum sampai golgota maka kekatolikan kita hanya katolik KTP, katolik tempelan. Untuk dapat turun dari tabor-tabor hidup, untuk dapat keluar dari zona-zona nyaman hidup kita, hal pertama yang harus dibuat adalah berani untuk berubah, berani untuk mengendalikan diri dan bagi kita orang katolik adalah berani untuk melangkah menuju golgota. Dan ketika kita telah mencapai golgota maka seperti ungkapan kepala pasukan kepada Yesus “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!” maka kita pun akan suatu saat nanti akan mendapat ungkapan yang sama, sungguh, orang ini adalah orang katolik yang sejati dan ia telah mengakhiri pertandingan ini dengan baik, amin.



Selasa, 04 Agustus 2015

Bacaan Injil Dan Renungan: Matius 15:21-28, Rabu, 5 Agustus 2015

Mat 15:21
Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon.
Mat 15:22
Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita."
Mat 15:23
Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak."
Mat 15:24
Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel."
Mat 15:25
Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku."
Mat 15:26
Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing."
Mat 15:27
Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya."
Mat 15:28
Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.




KASIHANILAH AKU YA TUHAN....


Injil yang bersama kita renungkan bersama pada hari ini mengisahkan tentang seorang Wanita Kanaan yang memiliki kerendahan hati dalam beriman. Wanita ini datang kepada Yesus dengan membawa serta problem yang sedang dihadapinya yaitu anaknya perempuan kerasukan setan dan sangat menderita. Dia datang kepada Yesus karena dia percaya bahwa Yesus dapat menolongnya. Ia berseru kepada Yesus walaupun tampaknya segala hal dan semua orang menentangnya. Ras, latar belakang agama, gender, para murid, setan, dan sepertinya Yesus pun demikian. Ia menghadapi banyak rintangan, tetapi ia tidak menyerah. Ia tetap berseru dan mendekat ke Yesus walau yang ia dapatkan adalah penolakan. Hasilnya? Yesus menghargai iman wanita itu dan menyembuhkan anak perempuannya. Perempuan ini datang kepada Tuhan Yesus dan menyembah; semakin dihina ia justru semakin merendah di hadapan Tuhan. Dia kembali memohon belas pengasihan Tuhan. Penghinaan itu belumlah cukup, kembali Tuhan mengeluarkan suatu kalimat yang bagi dunia sangatlah menyakitkan: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing”. Ia tidak protes atau meminta penjelasan pada Tuhan Yesus kenapa Tuhan mengatai dirinya sebagai anjing? Tidak! Bahkan dalam bagian ini, ia membenarkan pernyataan Tuhan Yesus: “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.“ Sungguh sangatlah mengharukan dan luar biasa iman perempuan ini, ia menurunkan posisinya di tempat yang paling rendah, ia tidak protes bahkan ia menyamakan dirinya seperti anjing. Pada titik ini kita belajar dari perempuan Kanaan ini bagaimana harusnya kita memiliki kerendahan hati dalam beriman.

Seringkali kita mendapatkan masalah yang bertubi-tubi yang kadang membuat kita mempertanyakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Tuhan ada di mana saat saya mengalami beragam penderitaan ini? Di sini iman seseorang ditantang, apakah benar bahwa ia sungguh beriman ataukah sebaliknya. Kita diundang oleh kasih-Nya untuk menghampiri Yesus dengan semangat pantang menyerah. Apabila kita senantiasa meminta, mencari, dan mengetuk, yakinlah bahwa kita akan menemukan kasih karunia dan belas kasihan saat kita memerlukannya. Berdoalah dan jangan gampang menyerah. Bergumullah sampai menang. Inilah cara beriman dengan penuh kerendahan hati. Beriman saja tidak cukup tetapi haruslah dilengkapi dengan kerendahan hati. Kasihanilah aku ya Tuhan, menandakan kerapuhan kita di hadapan Tuhan sembari kita terus mendekat kepada-Nya. Iman ini hanya timbul manakala kita mau dengan rendah hati diajar dan menerima pelajaran untuk bergantung sepenuhnya pada Ilahi. Inilah iman yang diajarkan Kristus kepada kita. Kemanusiaan harus menyatu dengan ke-Ilahian sepenuhnya.

Senin, 03 Agustus 2015

Bacaan Injil dan Renungan: Matius 14:22-36, Selasa, 4 Agustus 2015

Mat 14:22Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.

Mat 14:23Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.

Mat 14:24Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal.

Mat 14:25Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.

Mat 14:26Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut.

Mat 14:27Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!"

Mat 14:28Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air."

Mat 14:29Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.

Mat 14:30Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!"

Mat 14:31Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"

Mat 14:32Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah.

Mat 14:33Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah."

Mat 14:34Setibanya di seberang mereka mendarat di Genesaret.

Mat 14:35Ketika Yesus dikenal oleh orang-orang di tempat itu, mereka memberitahukannya ke seluruh daerah itu. Maka semua orang yang sakit dibawa kepada-Nya.

Mat 14:36Mereka memohon supaya diperkenankan menjamah jumbai jubah-Nya. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.

EGO EIMI.....AKU INI.....
Kisah Injil yang kita renungkan bersama ini menampilkan beberapa hal penting untuk kita yaitu doa, kehadiran Tuhan yang senantiasa menyertai dan Yesus yang memperkenalkan diri sebagai ego eimi, sebuah ungkapan yang sering digunakan dalam kitab suci perjanjian lama ketika Allah memperkenalkan diri-Nya. Yesus memberi teladan bagaimana relasiNya yang intim dengan Bapa nampak dalam doa. Yesus mengambil waktu untuk berdoa secara pribadi kepada Allah. Bila Yesus yang adalah Putera Allah saja merasa bahwa doa merupakan bagian penting dalam pelayanan-Nya, siapakah kita sehingga masih memandang remeh doa? Doa adalah bahan bakar, adalah nutrisi bagi kehidupan iman kita. Tanpa doa, kekebalan iman kita akan mudah diserang oleh virus setan, tanpa doa, roda-roda kehidupan iman kita tidak bisa untuk digerakkan menuju kesempurnaan iman itu sendiri.
Murid-Murid berada beberapa mil jauhnya dari pantai dan sedang diombang-ambing gelombang. Yesus tahu. Itulah sebabnya Ia segera mendatangi murid-murid yang sedang berjuang melawan gelombang. Itulh dimensi kehadiran dan penyertaan Tuhan dalam kehidupan kita. Dalam badai Tuhan hadir dan memberi ketenangan, dalam badai Tuhan hadir dan menyapa. Ini menjadi tanda bahwa dalam badai kehidupan sehebat apapun Tuhan selalu hadir dan menyapa. Sapaan Tuhan hanya bisa kita dengar apabila mata iman kita mampu untuk membedakan mana sapaan Tuhan dan mana sapaan hantu.
Ketika melihat ada manusia berjalan di atas air, murid-murid berteriak hantu. Yesus menyatakan diri-Nya dengan ungkapan penting Allah dalam Perjanjian Lama yakni `Ego Eimi, Akulah ini.... Istilah ini bukan hanya identifikasi diri tetapi penyingkapan ke-Allah-an Yesus.
Petrus memberanikan diri menyapa-Nya. Petrus meminta Yesus memerintahkannya untuk datang kepada-Nya dengan berjalan di atas air. Permintaan Petrus dikabulkan Yesus, Petrus berjalan di atas air mengalami kuasa Yesus. Petrus berjalan di atas air bergelombang. Sesaat kemudian timbul ketakutannya. Petrus meragukan perintah Yesus dan kuasa Yesus yang sudah dialaminya, meski sesaat. Dalam situasi demikian tidak ada cara lain kecuali berteriak memohon pertolongan Yesus. `Tuhan, tolonglah aku!'
Inilah doa Petrus. Singkat dan mendesak. Uluran tangan Yesus menyelamatkan Petrus. Goncangan dan gelombang kehidupan adalah latihan iman dan kesempatan untuk berdoa. Tak satu kejadian pun dalam hidup kita luput dari perhatian dan kasih-Nya. Kita perlu berseru, Tuhan, tolonglah aku... Maka Ia akan berkata, Ego Eimi.... Akulah ini....


Minggu, 02 Agustus 2015

Bacaan Injil Dan Renungan: Matius 14:13-21; Senin, 3 Agustus 2015

Mat 14:13
Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka.
Mat 14:14
Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.
Mat 14:15
Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa."
Mat 14:16
Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan."
Mat 14:17
Jawab mereka: "Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan."
Mat 14:18
Yesus berkata: "Bawalah ke mari kepada-Ku."
Mat 14:19
Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak.
Mat 14:20
Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh.
Mat 14:21
Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.

KAMU HARUS MEMBERI MEREKA MAKAN
Injil yang kita renungkan bersama pada hari ini mengisahkan tentang kepekaan Yesus akan kondisi orang banyak yang mengikuti-Nya. Mereka kekurangan makanan, bahkan mungkin sebagian sudah kehabisan makanan. Melihat Keadaan ini, timbullah belas kasihan dari Yesus. Jika dalam Injil Markus belas kasihan Yesus timbul karena orang banyak seperti domba tanpa gembala, Penginjil Matius justru menampilkan sisi yang lain yaitu belas kasihan Yesus muncul karena kebutuhan fisik. Orang banyak tidak mempunyai makanan. Yesus juga peka akan pendengar-pendengar-Nya. Meski jumlah mereka banyak, Ia masih memiliki waktu dan kesempatan untuk berbicara dan melayani mereka secara pribadi.
Siapa yang harus memberi mereka makan? Yesus melibatkan para murid. Ia ingin para murid-Nya pun peka bahkan sedia memberi. Murid-murid hanya memiliki lima roti dan dua ikan. Jelas tidak cukup untuk lebih lima ribu orang. Masih dibutuhkan sedikitnya 5000 roti dan 5000 ikan. Jumlah yang mustahil. Akan tetapi, di hadapan Yesus bukan jumlah yang membuat mustahil atau tidak. Segala hal yang dipersembahkan kepada-Nya, diterima-Nya, diberkati, dilipatgandakan. Hasilnya? Lima roti dan dua ikan yang telah diberkati Yesus itu membuat semua orang kenyang. Bahkan ada sisa 12 bakul.
Tidak cukup kita memiliki Yesus, kita harus juga berbagi berkat bagi orang lain. Terlibat dalam berbagai pelayanan rohani memang baik, tetapi itu tidak boleh membuat kita beralasan untuk mengabaikan kebutuhan dalam hal materiil yang dialami banyak orang di sekitar kita. Kamu harus memberi mereka makan. Sebuah perintah dari Yesus untuk kita sekalian. Kita memiliki lima roti dan dua ekor ikan dalam diri kita masing-masing, itulah yang harus kita bagikan. Masihkah ada potensi dan milik yang kita genggam sendiri dan tidak rela kita serahkan untuk Yesus pakai memberkati orang lain?


Sabtu, 01 Agustus 2015

BACAAN INJIL DAN RENUNGAN: YOHANES 6:24-35, MINGGU BIASA XVIII

Yoh 6:24Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.

Yoh 6:25Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: "Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?"

Yoh 6:26Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.

Yoh 6:27Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."

Yoh 6:28Lalu kata mereka kepada-Nya: "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?"

Yoh 6:29Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah."

Yoh 6:30Maka kata mereka kepada-Nya: "Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan?

Yoh 6:31Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga."

Yoh 6:32Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga.

Yoh 6:33Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia."

Yoh 6:34Maka kata mereka kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa."

Yoh 6:35Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.


ROTI HIDUP: BEKAL ABADI




Kalau boleh tahu, bagaimana perasaan saudara-saudari saat berangkat dari rumah untuk merayakan Ekaristi Minggu atau harian? Apakah mungkin ada rasa terbebani sebagai sebuah kewajiban utama misalnya gak enak sama umat yang lain, didesak oleh istri atau anak-anak, didesak oleh suami, datang mengikuti ekaristi pas sedang mendapat masalah dan sesudah masalah selesai mulai lupa letak gereja di mana ataukah datang untuk ikut merayakan ekaristi sebagai kebutuhan rohani, dan sebagainya? Sesungguhnya, bukan hanya kita yang membutuhkan Ekaristi, tetapi pertama-tama Yesuslah yang sangat membutuhkan kita untuk hadir dalam perjamuan kasih-Nya. Yesus tidak tahan untuk tidak mengasihi manusia sehabis-habisnya sehingga dengan penuh harapan, Dia merindukan kehadiran kita semua untuk menyantap Daging-Nya dan meminum Darah-Nya agar kita beroleh hidup yang kekal! Panggilan untuk merayakan Ekaristi bersama Yesus sebenarnya tidak lain adalah panggilan untuk dikasihi Allah seutuhnya. Siapa yang tidak mau dikasihi oleh Allah? maka datanglah untuk merayakan ekaristi dengan hati yang gembira dan dengan kerinduan yang mendalam untuk menyambut Tubuh Tuhan, Sang Roti hidup, pemuas rasa lapar jiwa kita.

Namun, panggilan itu sering sulit untuk kita dengarkan karena kita lebih suka dikasihi dengan syarat: kalau aku berhasil dalam studiku, bila prestasiku lebih tinggi daripada teman-temanku, bila aku memiliki jabatan yang mapan, dan sebagainya. Itulah ”ketentuan dunia yang mengasihi manusia hanya kalau orang berhasil”. Jalan pikiran macam ini ada pada orang-orang yang mengikuti Yesus setelah Yesus mengadakan mukjizat dengan lima roti dan dua ikan. Dengan bertopeng sembari mengagungkan mujizat-mujizat Musa, dengan diam-diam mereka memandang ringan mujizat Kristus, dan menyisihkan bukti yang menunjukkan bahwa Ia telah diutus Allah. Alasan mereka, "Kristus memberi makan ribuan pengikut-Nya, tetapi Musa memberi makan ratusan ribu pengikutnya. Kristus hanya sekali memberi mereka makan, tetapi, Musa memberi makan para pengikutnya selama empat puluh tahun, sehingga mujizat bukan lagi menjadi sesuatu yang aneh dan langka bagi mereka, melainkan sudah menjadi makanan sehari-hari belaka. Kristus memberi mereka makan dengan roti yang berasal dari bumi: roti jelai, dan ikan yang berasal dari laut, sedangkan Musa memberi bangsa Israel makan roti dari sorga, yaitu manna. 

Begitulah, betapa mudahnya kita meremehkan dan menganggap sepi kehadiran kuasa Allah dan anugerah-Nya sehingga kadang ekaristi hanya dianggap sebagai formalitas semata. bahkan ada yang mengatakan mending saya berdoa di rumah saja daripada capek-capek ikut misa, toh saya masih sehat-sehat dan malah lebih sukses dari orang yang rajin ke gereja. Tuhan Yesus menuding kedangkalan hidup orang banyak karena orientasi mereka hanya perut. Mungkin juga Yesus menuding kita karena melihat ekaristi sebagai sebuah formalitas belaka dan sebagai hal yang membosankan. Kita kadang lupa bahwa mengikuti ekaristi bukan untuk memperoleh hal-hal yang bersifat duniawi tetapi kita mengikuti ekaristi untuk memperoleh kebahagiaan iman dan hati serta memperoleh rasa damai yang tidak mampu dibeli dengan uang atau hal yang lainnya. Orang yang kalau tidak berdoa atau tidak mengikuti ekaristi sehari saja merasa ada yang hilang di dalam dirinya itu tanda bahwa orang itu sungguh menganggap doa dan ekaristi sebagai sebuah kebutuhan dan memiliki kerinduan yang suci, sedangkan orang yang merasa biasa-biasa saja, itu patut untuk dipertanyakan. 

Kegagalan untuk menyadari hal rohani dan kekal di dalam dan melalui hal jasmani juga sering kita alami. Hanya dengan lebih dekat kepada Yesus dan menempatkan Dia berdaulat atas segala aspek hidup kita, kita semakin mampu menghayati hadirat-Nya di dalam semua aspek hidup kita yang sementara.

Ketika kita kenyang secara jasmani, makin rindukah kita untuk dikenyangkan oleh Yesus, Sang Roti Hidup?