Sabtu, 15 Agustus 2015

Bacaan Injil Dan Renungan: Lukas 1:39-56. Hari Raya Maria Diangkat Ke Surga, Minggu 16 Agustus 2015

Luk 1:39
Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda.
Luk 1:40
Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet.
Luk 1:41
Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus,
Luk 1:42
lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.
Luk 1:43
Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?
Luk 1:44
Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.
Luk 1:45
Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana."
Luk 1:46
Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan,
Luk 1:47
dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,
Luk 1:48
sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,
Luk 1:49
karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.
Luk 1:50
Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.
Luk 1:51
Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;
Luk 1:52
Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;
Luk 1:53
Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;
Luk 1:54
Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya,
Luk 1:55
seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya."
Luk 1:56
Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.



SUB TUTELA MATRIS (DI BAWAH NAUNGAN SANG BUNDA)


Hari ini kita merayakan Hari Raya Maria Diangkat Ke Surga atau Maria Assumpta. Bunda Maria, Bunda kita sekalian adalah teladan Iman dan teladan kehidupan kita umat Kristiani, pada kesempatan ini saya mengajak kita sekalian untuk bersama merefleksikan tentang Teladan Bunda Maria yang berbagi sukacita iman dengan saudari sepupunya Elizabeth. Bunda Maria tidak menyimpan suka cita iman yang Ia miliki untuk dirinya sendiri tetapi ia berbagi suka cita iman itu bersama orang lain.
Dalam Kisah Injil tadi kita menyimak percakapan antara dua ibu yang berbahagia, Dua ibu yang penuh dengan Roh Kudus, Elisabet dan Maria. Malaikat membuka kesempatan terjadinya perjumpaan di antara kedua orang ini dengan memberi tahu Maria tentang berkat yang dilimpahkan kepada sanaknya, Elisabet.

Maria melakukan kunjungan kepada Elisabet dengan melakukan sebuah perjalanan yang jauh yaitu ke daerah pegunungan. Maria yang telah mengandung Mesias tidak merasa bahwa dirinya lebih tinggi dari Elisabeth maka ia yang harusnya dikunjungi oleh Elisabeth. Maria juga meninggalkan semua urusannya guna mengurus hal yang lebih besar ini: berbagi sukacita iman. Di sini kita belajar untuk bersikap rendah hati seperti Maria, tidak memandang status yang kita miliki, berani untuk menarik diri sejenak dari kesibukan-kesibukan kita untuk bergerak keluar dan mengunjungi orang yang membutuhkannya. Bukan sekedar mengunjungi tetapi mengunjungi dengan membawa sukacita iman untuk orang yang dikunjungi.

Pertemuan antara Maria dan Elisabet sungguh-sungguh diliputi oleh suasana yang penuh dengan kebahagiaan Iman. Maria memberi salam kepada Elisabet dan berkata bahwa ia datang untuk mengunjunginya, untuk mengetahui keadaannya, dan bersuka bersamanya di dalam sukacitanya. dan demi menegaskan iman mereka berdua. Kemudian terjadilah sesuatu yang luar biasa. Maria mengetahui bahwa Elisabet sedang mengandung seorang anak. Kita belajar dari pertemuan yang membawa kebahagiaan yang mendalam ini. Yang pertama, mereka bertemu untuk berbagi kebahagiaan iman dan bukan yang lainnya. Biasanya orang berkata, di mana dua tiga orang berkumpul di situ Tuhan hadir. Tetapi ada juga yang berkata, di mana dua tiga ibu berkumpul di situ pasti ada orang yang dibicarakan atau digosipkan. Yang jenis ini namanya membawa luka untuk orang lain dan bukan membawa suka bagi orang lain. Yang kedua, pertemuan ini membawa kebahagiaan karena Maria membawa Yesus dalam rahimnya dan ini membuat Elisabeth dan Yohanes begitu bersukacita. Apa yang kita bawa untuk orang lain? membawa wajah Tuhan atau membawa wajah pribadi? Dalam kisah injil tadi dikatakan bahwa Yohanes melonjak kegirangan dalam rahim ibunya, seolah-olah memberi isyarat kepada ibunya, bahwa ia sekarang berjumpa dengan Dia, berjumpa dengan orang yang karenanya ia diutus sebagai pendahulu. Juga karena pengaruh kuat yang ditujukan untuk sang ibu. Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, atau Roh nubuat, dan oleh Roh inilah, dan juga dengan ilham yang diberikan Roh, ia diberi pemahaman bahwa Sang Mesias hadir di situ. Gerakan bayi yang tidak seperti biasanya di dalam rahimnya ini merupakan tanda adanya emosi yang luar biasa di dalam jiwa Elisabet karena gerakan ilahi. Ucapan selamat datang yang disampaikan oleh Elisabet melalui Roh Nubuat kepada Maria, ibu Tuhan kita. Ucapan ini disampaikan bukan seperti kepada seorang teman biasa yang sedang melakukan kunjungan biasa, tetapi kepada orang yang akan melahirkan Mesias.

Elisabet mengucapkan selamat kepada Maria atas kehormatan yang diterimanya, meskipun ia belum pernah mengetahui hal itu sebelum ini. Ia mengucapkannya dengan penuh keyakinan dan kegembiraan. Ia berseru dengan suara nyaring, karena ia sedang hanyut dalam sukacita yang meluap-luap, dan tidak peduli kalau orang sampai mendengarnya. Ia berseru, "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan," kata-kata sama seperti yang diucapkan oleh malaikat ; karena memang demikianlah kehendak Allah mengenai menghormati Sang Anak, bahwa itu harus terjadi di bumi seperti di dalam sorga. Namun, Elisabet menambahkan sebuah alasan lagi, oleh karena itu, "Diberkatilah engkau sebab diberkatilah buah rahimmu." Jadi Maria layak memperoleh kehormatan istimewa ini. Elisabet sudah jadi istri seorang imam selama bertahun-tahun, namun ia tidak merasa iri bahwa Maria, saudara sepupunya, yang jauh lebih muda daripadanya, yang dalam segala hal lebih rendah daripadanya, akan mendapatkan kehormatan untuk mengandung dalam keadaan masih perawan, dan menjadi ibu Sang Mesias. Meskipun kehormatan yang diperolehnya lebih sedikit, namun Elisabet bersukacita di dalamnya; ia merasa puas, sama seperti anaknya kelak, bahwa Maria yang datang kemudian daripadanya lebih tinggi daripadanya.

Di bawah naungan Sang Bunda, Yesus dibawa dan diperkenalkan kepada Elisabeth dan Yohanes Pembaptis. Di bawah naungan Sang Bunda pula, hendaknya kita pun membawa Yesus dan memperkenalkannya kepada setiap orang yang kita jumpai. Di bawah naungan Sang Bunda pula, kita akan mendapatkan rahmat yang mengalir dan menggenangi hidup kita. Mari kita wartakan Yesus karena kita selalu berada dalam naungan Sang Bunda. Amin



Jumat, 14 Agustus 2015

Bacaan Injil Dan Renungan: Matius 19:13-15; Sabtu, 15 Agustus 2015

Mat 19:13
Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu.
Mat 19:14
Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga."
Mat 19:15
Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ.

BIARKANLAH ANAK-ANAK DATANG PADA-KU
Ketika membaca kisah Injil yang akan kita renungkan bersama ini, saya teringat akan pengalaman saat masih Sekolah Dasar dulu dan ketika akan menerima Komuni Pertama. Kami berbaris di halaman Gereja dan kemudian menyanyikan lagu Biarkanlah anak-anak datang pada-Ku sambil berarak masuk ke dalam Gereja dan disambut Imam pemimpin perayaan. Saat itu yang terasa dalam hati adalah suka cita dan kerinduan yang begitu mendalam karena sebentar lagi akan menerima Yesus dalam hati. Kira-kira seperti ini syair lagunya, pada suatu hari anak-anak datang pada Yesus, para murid mengusirnya tetapi Yesus berkata, biarkanlah anak-anak, biarkanlah anak-anak datang pada-Ku datang padamu, mereka sahabat-Ku.  Selalu ada perasaan haru yang menyelimuti diri, setiap kali menyanyikan lagu ini. Perasaan yang sama selalu ada terutama ketika sudah menjadi seorang Imam dan hendak memberi komuni pertama untuk anak-anak. Saat mereka menyanyikan lagu ini, terungkap di sana kerinduan hati anak-anak untuk datang dan menyambut Yesus. Mereka begitu bergembira saat melangkahkan kaki memasuki Gereja. Saya membayangkan Yesus yang sementara tersenyum dan membuka kedua tangan-Nya dan menyambut kedatangan anak-anak.  Atau  juga dalam perayaan ekaristi dan anak-anak berbaris untuk menerima berkat dari Imam. Tetapi kadang saya merasa miris ketika merayakan ekaristi dan saat pemberkatan anak-anak, yang maju untuk mengantar anak-anak adalah baby sister atau pengasuh anak sedangkan orang tuanya cuma duduk di tempat duduk.
Kehadiran seorang anak dalam sebuah keluarga tentunya merupakan sebuah berkat yang tak terhingga, sebuah hadiah istimewa bagi pasangan suami istri. Maka berkat tersebut, hadiah istimewa tersebut perlu dijaga, dididik dan dihantar untuk mengenal dan mencintai Sang Pemberi berkat atau hadiah istimewa tersebut.  Itulah bentuk syukur, bentuk iman yang diperlihatkan oleh orang tua dan juga oleh mereka yang membawa anak-anak kecil itu kepada Yesus seperti yang kita baca dalam Injil hari ini.
Mereka menunjukkan rasa hormat terhadap Kristus, dan penghargaan mereka terhadap karunia dan berkat-Nya. Mereka yang mengagungkan Kristus dengan datang kepada-Nya secara pribadi hendaknya juga mengagungkan-Nya lebih jauh lagi dengan membawa serta semua yang mereka miliki atau yang berada di bawah pemeliharaan mereka ke hadapan-Nya. Dengan cara ini, kita menghormati kekayaan anugerah-Nya yang tidak terduga itu, dan kepenuhan-Nya yang berlimpah dan tidak pernah gagal. Kita tidak dapat menghormati Kristus dengan lebih baik, kecuali dengan mengambil manfaat dari-Nya.
Mereka melakukan hal yang baik kepada anak-anak mereka, tanpa meragukan bahwa anak-anak tersebut akan lebih berhasil, baik dalam dunia ini maupun dalam dunia yang akan datang, melalui berkat dan doa dari Tuhan Yesus. Mereka memandang Dia sebagai seorang pribadi yang luar biasa, sebagai seorang nabi, jika bukan sebagai seorang imam dan raja, dan berkat dari orang yang demikian memang sangat dihargai dan dicari-cari. Orang-orang lain biasanya membawa anak-anak mereka kepada Kristus untuk disembuhkan ketika mereka sakit, namun dalam hal ini anak-anak ini tidak dalam keadaan sakit apa pun. Orang-orang yang membawa mereka hanya ingin agar mereka mendapat berkat. Perhatikanlah, adalah hal yang baik jika kita datang secara pribadi kepada Kristus dan membawa serta anak-anak kita kepada-Nya, sebelum kita dihalau dengan terpaksa (seperti yang kita biasa katakan) untuk menemui-Nya oleh karena malapetaka. Kita harus mengunjungi-Nya bukan saja ketika kita sedang susah, namun hendaknya kita datang ke hadapan-Nya karena merasa bergantung pada-Nya, dan untuk mengharapkan kebaikan-kebaikan dari-Nya. Hal ini sangat menyenangkan hati-Nya.
Mereka ingin supaya Ia bersedia meletakkan tangan-Nya ke atas anak-anak tersebut dan mendoakan mereka.  Anak-anak kecil dapat dibawa kepada Kristus karena mereka membutuhkan dan mampu menerima berkat dari-Nya, dan mereka juga berkepentingan dalam pengantaraan yang dilakukan-Nya. Inilah sebabnya mengapa mereka seharusnya dibawa ke hadapan-Nya. Kita tidak dapat melakukan apa yang lebih baik bagi anak-anak kita selain daripada menyerahkan mereka ke dalam tangan Tuhan Yesus untuk ditempa dan didoakan oleh-Nya. Tidak ada hal lain yang dapat kita lakukan selain daripada memohonkan berkat bagi mereka, karena hanya Kristus sendiri yang mampu mengaruniakannya.
Kesalahan murid-murid-Nya yang menghardik mereka. Mereka mencibir tindakan orang-orang tersebut sebagai hal yang sia-sia dan tidak berdasar, dan menegur mereka sebagai tidak sopan dan menyusahkan saja. Mereka beranggapan bahwa Guru mereka terlalu agung untuk memperhatikan anak-anak kecil, kecuali ada sesuatu yang membuat mereka sakit. Mungkin juga mereka berpikir bahwa Ia sudah mencurahkan tenaga-Nya untuk pekerjaan-pekerjaan-Nya yang lain, dan tidak ingin perhatian-Nya terpecah oleh karena hal ini. Atau, mereka berpikir bahwa jika tindakan seperti ini diberi hati, maka seluruh penduduk negeri akan membawa anak-anak mereka kepada-Nya, dan ini tidak akan ada habis-habisnya.
InilahKebaikan hati Yesus, Tuhan kita.  Ia menghardik murid-murid-Nya Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku. Kemudian Ia menunjukkan letak kesalahan yang mereka perbuat, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga. Yesus menganggap jahat orang-orang yang menghalang-halangi mereka dan mengusir mereka yang telah diterima-Nya itu. Orang-orang yang bertindak demikian berarti melemparkan anak-anak itu keluar dari pewarisan yang akan dikaruniakan Tuhan.  Ia menerima anak-anak itu, dan bertindak sesuai dengan apa yang dikehendaki para orangtua dari-Nya. Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka, yang artinya, Ia memberkati mereka. Orang percaya yang paling kuat sekalipun tidak hidup dengan mengaku bahwa dia telah mengerti Kristus dengan sempurna seperti Kristus telah memahaminya dengan sempurna ia juga tidak begitu mengenal Allah sebagaimana Allah begitu mengenal dia. Hal inilah yang paling tidak mampu dilakukan oleh seorang anak kecil. Walaupun mereka tidak mampu mengulurkan tangan mereka untuk menggapai Kristus, Ia dapat meletakkan tangan-Nya ke atas mereka, sehingga menjadikan dan mengakui mereka sebagai milik-Nya sendiri.
Pada titik tertentu, peran Yesus bisa juga menjadi peran orang tua. Orang tua bisa menunjukkan peran Yesus yang lemah lembut, penuh kasih pada anak-anak, yang bergembira bersama anak-anak. Orang tua tidak perlu menjadi “singa” bagi anak-anak sehingga anak-anak begitu takut bila mendekati orang tuanya, tidak nyaman dengan orang tuanya. Anak-anak juga bukan menjadi objek penderita dari luapan emosi orang tua, sasaran kekesalan dan kejengkelan orang tua. Orang tua perlu merasa “ada yang hilang”, bila anak  mulai menjauh dari Gereja dan lebih sibuk dengan hal-hal yang lain. Biarkan anak-anak merasa damai dan nyaman bila ada di dekat orang tuanya.

Biarkanlah anak-anak datang pada-Ku, AKU rindu meletakkan tangan-Ku atas mereka, mereka adalah sahabat-KU, amin.

Kamis, 13 Agustus 2015

Bacaan Injil dan renungan: Matius 19:3-12, PW St Maximilian Kolbe, Jumat, 14 Agutus 2015

Mat 19:3
Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?"
Mat 19:4
Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?
Mat 19:5
Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
Mat 19:6
Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
Mat 19:7
Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?"
Mat 19:8
Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.
Mat 19:9
Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah."
Mat 19:10
Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin."
Mat 19:11
Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja.
Mat 19:12
Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti."


KESETIAAN: BAHAN BAKAR UNTUK MENCAPAI KEBAHAGIAAN HIDUP


INJIL yang kita renungkan bersama pada hari ini berbicara tentang satu hal ini yaitu kesetiaan. Berbicara tentang kesetiaan sama seperti kita bicarakan tentang sebuah pengorbanan sebab tidak ada kesetiaan tanpa pengorbanan. Tentu bahwa setia yang dimaksudkan di sini bukanlah Setiap Tikungan Ada tetapi setia yang dimaksud adalah perjuangan untuk tetap menghidupi komitmen yang telah dibentuk. Dalam perkawinan Gereja Katolik yang bersifat monogami dan indisolubiditas (tak terceraikan), kesetiaan adalah bahan bakar untuk mencapai tujuan dari sebuah perkawinan. Sebagai bahan bakar tentunya mutlak dibutuhkan untuk menggerakkan roda kehidupan sebuah keluarga.

Menjadi suami dan istri berarti suatu perubahan total dalam kehidupan seseorang. Dalam kitab Kejadian dikatakan: “Seorang laki-laki meninggalkan ayah-ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Kej 2:24). Orang meninggalkan masa hidupnya sebagai anak dan mulai hidup sebagai suami-istri. Hidup itu tidak berarti hidup dua orang bersama, tetapi hidup menjadi satu orang (dalam bahasa Ibrani “daging” berarti makhluk, khususnya manusia). Dengan demikian mau diungkapkan kesatuan dalam perkawinan atau “monogami”. Itulah arti yang oleh Yesus diberikan kepada ayat ini dalam Mat 19:5: “Laki-laki akan meninggalkan ayah-ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.”

Kesatuan dalam perkawinan bukan hanya soal “kontrak” atau janji saja. Suami-istri sungguh satu manusia baru. Suami hidup dalam istrinya, dan istri dalam suaminya. Kesatuan mereka bukan hanya kesatuan badan, melainkan meliputi hidup seluruhnya, jiwa dan badan. Oleh karena itu kesatuan suami-istri juga menyangkut iman mereka. Di hadapan Allah dan dalam persatuan dengan Kristus mereka itu satu. Maka hubungan dengan Kristus yang pernah diikat dalam pembaptisan sebelum nikah, lain daripada persatuan dengan Kristus sebagai suami-istri. Mereka yang dibaptis sebagai suami-istri langsung berhubungan dengan Kristus sebagai suami-istri. Maka mereka tidak perlu menerima sakramen perkawinan lagi. Mereka sudah menikah waktu dibaptis. Mereka dari semula menjadi anggota Gereja sebagai orang berkeluarga. Sebaliknya mereka yang pernah menjadi anggota sebagai anak atau sebagai pemuda dan pemudi harus “memperbarui” keanggotaan mereka dan menjadi anggota yang berkeluarga. Hal itu terjadi dengan sakramen perkawinan. Maka sakramen perkawinan juga menyangkut keanggotaan Gereja.

Tetapi janganlah sakramen perkawinan dianggap suatu formalitas saja guna membereskan “KTP gerejawi”, Surat Efesus menyebutnya “misteri agung”. Itulah penafsiran berhubungan dengan Kej 2:24, yang telah dikutip di atas.

Sebab oleh kesatuan dengan Kristus hubungan suami-istri termasuk “misteri’ Allah. Artinya, karena kesatuan dengan Kristus karya Allah dinyatakan dan dilaksanakan dalam perkawinan. Sama seperti sakramen tobat begitu juga untuk sakramen perkawinan tidak ditentukan upacaranya dalam Kitab Suci. Bahkan mengenai inti perkawinan serta sifat sakramentalnya, jarang disebut. Cinta perkawinan mereka mengambil bagian dalam cinta Kristus kepada Gereja-Nya. Dengan demikian ditunjukkan yang paling pokok dalam setiap sakramen yaitu arti keselamatannya. Suami-istri dalam kesatuan dengan Kristus diselamatkan oleh cinta perkawinan mereka sendiri.

Itulah sebabnya Yesus dalam Injil tadi menekankan pentingnya kesetiaan. Tanpa kesetiaan maka semua yang disebutkan di atas akan menjadi sia-sia belaka. Mari kita belajar untuk setia karena dalam setia kita akan menemukan kekuatan dari sebuah cinta yang sesungguhnya.





Rabu, 12 Agustus 2015

BACAAN INJIL DAN RENUNGAN: MATIUS 18:21-19:1; KAMIS 13 AGUSTUS 2015

Mat 18:21
Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"
Mat 18:22
Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.
Mat 18:23
Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.
Mat 18:24
Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.
Mat 18:25
Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.
Mat 18:26
Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.
Mat 18:27
Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
Mat 18:28
Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!
Mat 18:29
Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.
Mat 18:30
Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.
Mat 18:31
Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.
Mat 18:32
Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.
Mat 18:33
Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?
Mat 18:34
Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.
Mat 18:35
Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."

Mat 19:1
Setelah Yesus selesai dengan pengajaran-Nya itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang sungai Yordan.


KEKUATAN DARI SEBUAH PENGAMPUNAN
Bacaan Injil yang akan kita renungkan bersama ini mengisahkan kepada kita tentang ajaran Yesus tentang pentingnya semangat untuk mengampuni dalam hidup kita. Berbicara tentang pengampunan itu ada kaitannya dengan relasi kita dengan sesama kita. Banyak kali sebuah relasi menjadi renggang bila ada satu pihak yang tersakiti dan di lain pihak memunculkan dendam dan perasaan sakit hati. Secara manusiawi hal ini tentulah lumrah karena yang namanya tersakiti pasti menimbulkan luka. Tetapi apakah luka itu lantas akan sembuh bila tidak ada upaya untuk menyembuhkannya? obat yang paling mujarab untuk sebuah perasaan yang terluka adalah mengampuni karena dengan mengampuni maka ada damai dalam diri.
Pengampunan membutuhkan bantuan kekuatan yang besar. Tindakan pengampunan yang memungkinkan kita untuk melihat keindahan yang tersembunyi dalam keadaan yang menyakitkan. Memilih untuk “sekadar melupakan, atau “melewatkannya begitu saja” tanpa proses untuk mencapai tujuannya dapat mengarah pada tindakan sekadar menekan amarah Kita yang mungkin dapat muncul kembali dalam ledakan yang tak terkendali di kemudian hari.
Bila disakiti, khususnya bila hal itu tanpa penyebab, dapat menuntun kita pada amarah dengan rasa benar sendiri. Meskipun demikian, bila kita diperlakukan secara salah, hal itu akan membuat kita cepat lupa bahwa kita juga menyakiti orang lain pada tingkat tertentu. Mungkin tidak pada tingkatan atau cara yang sama, tetapi dalam satu dan lain hal kita benar-benar telah menimbulkan rasa sakit bagi seseorang yang kita cintai. Perlu untuk kita renungkan mengenai pengampunan yang telah Kita terima dalam hubungan Kita. ketika kita mempertimbangkan betapa besar kasih karunia tersebut, bagaimana saya diampuni sehingga saya dapat tumbuh menjadi orang yang lebih mengasihi, membuat saya menjadi sulit untuk mempertahankan kebencian terhadap seseorang yang telah menyakiti saya. Kebanyakan orang menyakiti orang lain karena mereka merasa sakit dalam hal tertentu. Pengkhianatan memiliki kekuatan untuk bersujud dalam doa bila kita membiarkan amarah mereda dalam diri kita. Sekali kita memberi kesempatan bagi dendam untuk mengambil alih tempat dalam hati kita, hal itu memiliki efek magnetik yang menarik hal-hal negatif ke arah diri kita. Tidak lama akan ada perasaan bahwa kita adalah korban kapan pun kita disakiti dalam kehidupan. Dan beratnya dendam menggerogoti kita dari kedamaian, kebahagiaan, dan kasih sayang. Sebaliknya, meditasi tentang pengampunan akan melegakan. Hal itu akan membuat Kita untuk tidak tertahan dalam penjara oleh orang yang telah menyakiti Kita, melainkan menerima secara perlahan-lahan bahwa meskipun tindakan mereka salah, Kita dapat sembuh dari rasa sakit dan beranjak maju sebagai orang yang lebih kuat dan lebih mengasihi. Itulah alasan mengapa Yesus ketika ditanya Petrus berapa kalikah harus mengampuni dan Yesus mengatakan secara terimplisit bahwa pengampunan itu hendaknya tanpa batas. Mari kita belajar mengampuni agar damai dalam hati kita tidak tergeser oleh amarah, dendam, benci dan perasaan-perasaan negatif lainnya.


Selasa, 11 Agustus 2015

BACAAN INJIL DAN RENUNGAN: MATIUS 18:15-20, Rabu, 12 Agustus 2015

Mat 18:15
"Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.
Mat 18:16
Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.
Mat 18:17
Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.
Mat 18:18
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.
Mat 18:19
Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.
Mat 18:20
Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."

REKONSILIASI HATI


Bacaan Injil yang kita renungkan bersama pada hari ini menekankan dua hal penting ini untuk kita yaitu pertobatan dan doa. Tanpa pertobatan maka sebuah doa akan sia-sia dan tanpa doa maka sebuah pertobatan akan tidak memiliki nilai apa-apa. Dua hal mendasar ini memiliki hubungan yang erat satu terhadap yang lain. Pertobatan kadang dilihat hanya sebagai sebuah ceremoni belaka dan kemudian menjadi kabur maknanya. Mengapa demikian? Pertama, orang tidak mengalami pertobatan yang sungguh karena hilangnya pengakuan diri sebagai orang berdosa, yang masih tetap memiliki kecenderungan terhadap dosa (Ah, saya khan sudah suci karena dulu sudah dibaptis!). Dengan menganggap dirinya demikian saja, orang sudah jatuh dalam dosa kesombongan. Kedua, orang tidak bertobat karena tiadanya penyembuhan sesudah pertobatan itu sendiri. Setelah menerima Sakramen Tobat toh masih tetap melakukan dosa yang sama. “Malu akh, selalu mengaku dosa yang sama melulu, itu-ituuuu…terus!”, komentar salah seorang umat yang pemah saya dengar. Di sini kita bisa menyadari pertobatan hendaknya dimulai dari hati.

Apa yang dimaksud pertobatan hati? Tobat hati adalah satu penataan baru seluruh kehidupan, satu langkah balik, pertobatan kepada Allah dengan segenap hati, pelepasan dosa, berpaling dari yang jahat, yang dihubungkan dengan keengganan terhadap perbuatan jahat yang telah kita lakukan. Sekaligus ia membawa kerinduan dan keputusan untuk mengubah kehidupan, serta harapan akan belas kasihan Ilahi dan bantuan rahmat-Nya …”

Dari sini jelaslah bahwa pertobatan kita bukanlah pertama-tama suatu tindakan yang tampak seperti puasa dan mati raga, atau tanda-tanda lahiriah lainnya, melainkan pertobatan hati atau pertobatan batin. Tanpa pertobatan itu, segala wujud dan karya pertobatan tidak akan berhasil dan tidak jujur. Namun, pertobatan hati yang sungguh telah terwujud dalam diri seseorang mau tidak mau akan tampak dalam tindakan dan karyanya.

Pertobatan ini bukanlah sesuatu yang kita lakukan sekali seumur hidup, melainkan kita harus terus-menerus. Sesungguhnya, pertobatan kita telah terjadi ketika kita menerima Kristus melalui pembaptisan. Dalam pembaptisan itu, segala dosa kita diampuni dan kita memperoleh anugerah hidup baru. Itulah yang disebut dengan pertobatan pertama. Namun, kehidupan ini tidaklah menghilangkan kerapuhan dan kelemahan kita sebagai manusia. Kita masih memiliki kecenderungan pada dosa dan dari realitas sehari-hari kita mengalami betapa mudahnya kita terjatuh dalam dosa. Karena kenyataan itulah, seorang Kristiani perlu terus-menerus bertobat dan memperbarui diri.

Pertobatan itu bagaikan sebuah perjalanan yang berlangsung terus-menerus dan terjadi dalam pergulatan kita sehari-hari dan bukan dalam bentuk gegap gempita atau dalam upacara yang menghebohkan, tetapi berlangsung sangat biasa; dimulai dari kerinduan kita untuk kembali kepada Allah setelah menyadari betapa jauhnya kita selama ini dari Diri dan Sabda-Nya. Melalui pengalaman-pengalaman dan kejadian tertentu, kita melangkah semakin dalam mengenal Allah dan misteri-Nya. Kemudian semakin kita mengenal diri kita yang sesungguhnya; bahwa kita adalah makhluk yang rapuh, penuh dosa namun diselamatkan oleh Allah. Kita menyadari walaupun kita berdosa, kita dicintai dan diampuni Allah. Pengenalan akan diri kita yang sesungguhnya dan juga pengenalan akan Allah yang semakin mendalam itulah yang mendorong kita semakin kuat berbalik kepada Allah dan hidup dekat dengan-Nya. Dalam doa kita akan menemukan pertobatan yang sejati.