Sabtu, 01 Agustus 2015

BACAAN INJIL DAN RENUNGAN: YOHANES 6:24-35, MINGGU BIASA XVIII

Yoh 6:24Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.

Yoh 6:25Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: "Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?"

Yoh 6:26Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.

Yoh 6:27Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."

Yoh 6:28Lalu kata mereka kepada-Nya: "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?"

Yoh 6:29Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah."

Yoh 6:30Maka kata mereka kepada-Nya: "Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan?

Yoh 6:31Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga."

Yoh 6:32Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga.

Yoh 6:33Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia."

Yoh 6:34Maka kata mereka kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa."

Yoh 6:35Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.


ROTI HIDUP: BEKAL ABADI




Kalau boleh tahu, bagaimana perasaan saudara-saudari saat berangkat dari rumah untuk merayakan Ekaristi Minggu atau harian? Apakah mungkin ada rasa terbebani sebagai sebuah kewajiban utama misalnya gak enak sama umat yang lain, didesak oleh istri atau anak-anak, didesak oleh suami, datang mengikuti ekaristi pas sedang mendapat masalah dan sesudah masalah selesai mulai lupa letak gereja di mana ataukah datang untuk ikut merayakan ekaristi sebagai kebutuhan rohani, dan sebagainya? Sesungguhnya, bukan hanya kita yang membutuhkan Ekaristi, tetapi pertama-tama Yesuslah yang sangat membutuhkan kita untuk hadir dalam perjamuan kasih-Nya. Yesus tidak tahan untuk tidak mengasihi manusia sehabis-habisnya sehingga dengan penuh harapan, Dia merindukan kehadiran kita semua untuk menyantap Daging-Nya dan meminum Darah-Nya agar kita beroleh hidup yang kekal! Panggilan untuk merayakan Ekaristi bersama Yesus sebenarnya tidak lain adalah panggilan untuk dikasihi Allah seutuhnya. Siapa yang tidak mau dikasihi oleh Allah? maka datanglah untuk merayakan ekaristi dengan hati yang gembira dan dengan kerinduan yang mendalam untuk menyambut Tubuh Tuhan, Sang Roti hidup, pemuas rasa lapar jiwa kita.

Namun, panggilan itu sering sulit untuk kita dengarkan karena kita lebih suka dikasihi dengan syarat: kalau aku berhasil dalam studiku, bila prestasiku lebih tinggi daripada teman-temanku, bila aku memiliki jabatan yang mapan, dan sebagainya. Itulah ”ketentuan dunia yang mengasihi manusia hanya kalau orang berhasil”. Jalan pikiran macam ini ada pada orang-orang yang mengikuti Yesus setelah Yesus mengadakan mukjizat dengan lima roti dan dua ikan. Dengan bertopeng sembari mengagungkan mujizat-mujizat Musa, dengan diam-diam mereka memandang ringan mujizat Kristus, dan menyisihkan bukti yang menunjukkan bahwa Ia telah diutus Allah. Alasan mereka, "Kristus memberi makan ribuan pengikut-Nya, tetapi Musa memberi makan ratusan ribu pengikutnya. Kristus hanya sekali memberi mereka makan, tetapi, Musa memberi makan para pengikutnya selama empat puluh tahun, sehingga mujizat bukan lagi menjadi sesuatu yang aneh dan langka bagi mereka, melainkan sudah menjadi makanan sehari-hari belaka. Kristus memberi mereka makan dengan roti yang berasal dari bumi: roti jelai, dan ikan yang berasal dari laut, sedangkan Musa memberi bangsa Israel makan roti dari sorga, yaitu manna. 

Begitulah, betapa mudahnya kita meremehkan dan menganggap sepi kehadiran kuasa Allah dan anugerah-Nya sehingga kadang ekaristi hanya dianggap sebagai formalitas semata. bahkan ada yang mengatakan mending saya berdoa di rumah saja daripada capek-capek ikut misa, toh saya masih sehat-sehat dan malah lebih sukses dari orang yang rajin ke gereja. Tuhan Yesus menuding kedangkalan hidup orang banyak karena orientasi mereka hanya perut. Mungkin juga Yesus menuding kita karena melihat ekaristi sebagai sebuah formalitas belaka dan sebagai hal yang membosankan. Kita kadang lupa bahwa mengikuti ekaristi bukan untuk memperoleh hal-hal yang bersifat duniawi tetapi kita mengikuti ekaristi untuk memperoleh kebahagiaan iman dan hati serta memperoleh rasa damai yang tidak mampu dibeli dengan uang atau hal yang lainnya. Orang yang kalau tidak berdoa atau tidak mengikuti ekaristi sehari saja merasa ada yang hilang di dalam dirinya itu tanda bahwa orang itu sungguh menganggap doa dan ekaristi sebagai sebuah kebutuhan dan memiliki kerinduan yang suci, sedangkan orang yang merasa biasa-biasa saja, itu patut untuk dipertanyakan. 

Kegagalan untuk menyadari hal rohani dan kekal di dalam dan melalui hal jasmani juga sering kita alami. Hanya dengan lebih dekat kepada Yesus dan menempatkan Dia berdaulat atas segala aspek hidup kita, kita semakin mampu menghayati hadirat-Nya di dalam semua aspek hidup kita yang sementara.

Ketika kita kenyang secara jasmani, makin rindukah kita untuk dikenyangkan oleh Yesus, Sang Roti Hidup? 

Jumat, 31 Juli 2015

Bacaan Injil dan Renungan: Matius 14:1-12, PW St. Alfosus De Ligouri, Sabtu, 1 Agustus 2015

Mat 14:1
Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah.
Mat 14:2
Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya: "Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya."
Mat 14:3
Sebab memang Herodes telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya.
Mat 14:4
Karena Yohanes pernah menegornya, katanya: "Tidak halal engkau mengambil Herodias!"
Mat 14:5
Herodes ingin membunuhnya, tetapi ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi.
Mat 14:6
Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyukakan hati Herodes,
Mat 14:7
sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya.
Mat 14:8
Maka setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata: "Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam."
Mat 14:9
Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya.
Mat 14:10
Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara
Mat 14:11
dan kepala Yohanes itupun dibawa orang di sebuah talam, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya.
Mat 14:12
Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus.


Injil yang kita dengar bersama pada hari ini menggambarkan betapa Herodes dipenuhi dengan rasa takut yang tanpa alasan, semata-mata karena rasa bersalah dalam hati nuraninya sendiri. Begitulah, darah berteriak, bukan saja dari tanah tempatnya tercurah, tetapi juga dari dalam hati orang yang menumpahkannya, dan menjadi baginya  kengerian yang menghantuinya, kengerian bagi dirinya sendiri. Bagi nurani yang bersalah, segala sesuatu tampak menakutkan, dan seperti pusaran air, ia menarik masuk segala sesuatu yang berada di dekatnya. Demikianlah orang fasik lari, walaupun tidak ada yang mengejarnya . Mereka ditimpa kekejutan yang besar, padahal tidak ada yang mengejutkan.
Betapa Herodes berkeras hati dalam kejahatannya. Meskipun ia yakin bahwa Yohanes seorang nabi, dan seorang yang diakui Allah, ia sama sekali tidak menunjukkan perasaan menyesal atau sedih atas dosanya membunuh Yohanes. Orang bisa saja mempunyai perasaan-perasaan bersalah yang kuat, namun tidak menunjukkan pertobatan sejati yang menyelamatkan.
Manusia berdosa cenderung menolak segala peringatan yang mencegahnya menikmati hidup dalam dosa, sehingga mengalami kelumpuhan hati nurani. Kenikmatan dalam dosa membuat manusia hidup dalam bayang-bayang ketakutan yang terselubung, yang sebenarnya ada namun berusaha ditutupi dengan pernyataan: "hanya sekali tidak apa-apa", "semua orang juga melakukannya", "pengampunan tersedia bagi yang memohon", "demi kebaikan bersama", "Tuhan tahu maksud kita baik", dll.
Terlebih indah membereskan bayang-bayang ketakutan di hadapan-Nya dan jangan biarkan kelumpuhan hati nurani menyerang kita.



Kamis, 30 Juli 2015

BACAAN INJIL DAN RENUNGAN: MATIUS 13:54-58, PESTA ST. IGNATIUS DARI LOYOLA, JUMAT, 31 JULI 2015

Mat 13:54
Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: "Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu?
Mat 13:55
Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?
Mat 13:56
Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?"
Mat 13:57
Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: "Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya."
Mat 13:58
Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ.

MEMBUKA HATI UNTUK YESUS
Injil yang kita renungkan bersama pada hari ini mengisahkan tentang Yesus yang “mudik” ke Nazareth. Namun ternyata reaksi orang-orang Nazaret terhadap Yesus justru berupa sebuah penolakan. Yesus ditolak oleh orang-orang sekampung halaman-Nya. Bukankah sebaliknya mereka harus berbangga karena seorang nabi dan Mesias justru dibesarkan di kota mereka, mereka itu orang-orang sekampung halaman-Nya yang mestinya mengenal dengan baik Yesus selama ini. Mereka mestinya menjadi orang-orang yang akan mendukung karya Yesus. Bukankah biasanya warga desa atau kota tempat seorang tokoh berasal akan mendukung habis-habisan apabila tokoh tersebut sedang ikut berlomba atau bertanding di suatu turnamen atau apa? Ingat saja contoh bagaimana warga kota mendukung putra atau putrinya yang sedang ikut Indonesian idol. Pada kasus di Nazaret lain. Ternyata orang-orang Nazaret menolak Yesus. Bagaimana pula perasaan Ibu Maria ketika menyaksikan Yesus yang diusir dan bahkan mau dibunuh itu? Kiranya juga tidak sedikit orang yang menyimpan kekaguman kepada Yesus. Namun kini mereka harus menyaksikan sendiri hal yang amat menyakitkan dari seorang warga dari kampung Nazaret: diusir dan bahkan diancam untuk dibunuh! Bisa dibayangkan betapa Bunda Maria, saudara-saudari Yesus, dan para pengagum-Nya tentu sedih bukan main.? Yesus seakan-akan gagal dalam pewartaan di kampung halaman-Nya. Yesus heran dengan sikap penolakan dan ketidakpercayaan orang-orang sekampungnya. Pertanyaannya: mengapa Yesus ditolak oleh orang-orang sekampung halaman-Nya, Nazaret? Penginjil matius memberikan kepada kita sebuah alasan yaitu karena Yesus hanya seorang anak tukang kayu yang sederhana, anak dari seorang wanita yang sederhana, bagaimana mungkin memperoleh kebijaksanaan yang luar biasa itu?
Maksud dari penginjil Matius menampilkan alasan ini karena mau menyampaikan pesan kepada kita, betapa Yesus menghayati suatu syarat yang paling pokok menjalankan suatu karya pelayanan yaitu kemerdekaan batin atau kebebasan hati. Dalam diri Yesus terpancarlah suatu kemerdekaan batin yang luar biasa. Ia bisa bicara, mengajar dan berbuat dengan bebas sesuai dengan kebenaran yang harus Ia wartakan, yakni Kerajaan Allah. Yesus tidak ambil pusing dengan reaksi dan tanggapan orang. Yesus tidak mencari popularitas atau penggemar. Yesus tidak ambil peduli terhadap pencemaran nama baik-Nya. Ia tidak peduli dengan reaksi orang: menjadi suka atau mengagumi atau sebaliknya marah atau bahkan membenci-Nya. Pada saat berkarya itu, Yesus tidak memilih apa yang menguntungkan posisi-Nya atau apa yang memberikan keuntungan macam-macam hal untuk diri-Nya, entah keuntungan sosial, ekonomis, politis, ataupun psikologis. Yesus hadir dan tampil sesuai dengan tugas yang diberikan Bapa-Nya. Ia berkarya siang dan malam untuk mewartakan dan menghadirkan Kerajaan Allah di tengah bangsa-Nya. Di situ Yesus bersikap merdeka atau lepas bebas. Dia lepas bebas dan tidak ambil pusing dengan soal kesuksesan, ketenaran, nama baik, harga diri, kehormatan, dan tetek bengek lain yang biasa dicari orang dunia ini.
Pertanyaan refleksi untuk saya anda dan saudara sekalian? sudah berapa kali kita menolak Yesus dalam hidup dan diri kita, dalam pengalaman2 hidup kita? Banyak pengalaman menunjukkan bahwa Yesus banyak kali ditolak atau dengan kata yang agak lebih kasar, Yesus banyak kali digadaikan dan dijual hanya karena cinta, hanya karena jabatan, hanya karena uang dan alasan-alasan lainnya. Bisa kita bayangkan bagaimana perasaan Yesus ketika kita memperlakukannya demikian? tentu Yesus sedih dan kecewa. Dalam relasi horisontal antara kita dan sesama kita, mungkin banyak kali kita pun menolak Yesus yang hadir dalam diri sesama kita alasannya karena kita lebih cenderung untuk menilai seseorang dari tampilan fisik, apa yang dikenakannya, apa yang dipakainya, dan dari keluarga mana orang itu berasal, latar belakang pendidikan dan lain sebagainya. Ingat bahwa Yesus ditolak di Nazareth hanya karena orang tuanya adalah orang yang sederhana, hanyalah seorang anak tukang kayu dan ibu rumah tangga sederhana.
Melalui kisah injil yang kita renungkan bersama ini, mari kita membuka pintu hati kita lebar-lebar agar Yesus berdiam selamanya di hati dan hidup kita. Kita memperlakukan sesama kita dengan sewajarnya dengan keyakinan bahwa ada wajah Tuhan yang tersamar dalam diri sesama kita. Dengan semuanya itu bolehlah kita berseru, Yesus aku mencintaiMu dengan sungguh, amin.



Rabu, 29 Juli 2015

Bacaan Injil dan Renungan: Matius 13:47-53, Kamis, 30 Juli 2015

Mat 13:47
"Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan.
Mat 13:48
Setelah penuh, pukat itupun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang.
Mat 13:49
Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar,
Mat 13:50
lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.
Mat 13:51
Mengertikah kamu semuanya itu?" Mereka menjawab: "Ya, kami mengerti."
Mat 13:52
Maka berkatalah Yesus kepada mereka: "Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya."
Mat 13:53
Setelah Yesus selesai menceriterakan perumpamaan-perumpamaan itu, Iapun pergi dari situ.

ANTARA YANG BAIK DAN YANG JAHAT
Dunia ini ibarat laut yang luas, dan manusia adalah ikan-ikan yang kecil dan besar yang bergerak dan tidak terbilang banyaknyadi dalam laut itu.Memberitakan Injil itu seperti menebarkan pukat ke laut, untuk menangkap sesuatu dari dalamnya, bagi kemuliaan Dia yang berkuasa atas laut. Pukat ini mengumpulkan segala macam tangkapan, seperti halnya jala yang besar. Yang tertangkap oleh pukat tentu ada banyak hal.  Ada sangat banyak sampah, kotoran, rumput liar, binatang kecil, dan juga ikan. Akan datang waktunya ketika pukat itu akan menjadi penuh dan diseret ke pantai. Ada waktu yang sudah ditentukan ketika maksud pemberitaan Injil akan terpenuhi, dan saat itulah kita yakin bahwa Injil tidak akan kembali dengan sia-sia. Sekarang ini juga pukat itu sedang mengisi, terkadang lebih cepat dibandingkan pada waktu-waktu lain, namun pukat itu tetap mengisi, dan akan diseret ke pantai, ketika keputusan rahasia Allah digenapi. Apabila pukat itu sudah penuh dan diseret ke pantai, akan ada pemisahan antara yang baik dan yang jahat yang terjaring di dalamnya. Orang munafik dan orang Kristen sejati akan diceraikan pada saat itu. Orang baik akan dikumpulkan ke dalam bejana-bejana sebagai barang yang berharga, dan karena itu harus disimpan dengan hari-hati, sedangkan orang jahat akan dicampakkan sebagai barang yang keji dan tidak berguna. Pada waktu pukat ada di dalam laut, kita tidak tahu apa yang ada di dalamnya, bahkan para nelayan sendiri pun tidak bisa membedakannya. Namun demikian, mereka tetap dengan hati-hati menyeretnya ke pantai, beserta segala sesuatu yang ada di dalamnya, demi yang baik yang ada di dalamnya. Begitulah kepedulian Allah terhadap gereja yang ada di dunia ini.
Seorang yang mau membuka hatinya bagi kebenaran-Nya, akan menjadi seperti ikan yang baik yang begitu berharga di mata seorang nelayan. Orang yang baik tentunya berharga di mata Tuhan.


Selasa, 28 Juli 2015

Bacaan Injil dan renungan, Lukas 10:38-42, Pesta Santa Martha, Luk 10:38-42

Luk 10:38
Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya.
Luk 10:39
Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya,
Luk 10:40
sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku."
Luk 10:41
Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,
Luk 10:42
tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."

MARI DUDUK DI DEKAT KAKI YESUS
Injil yang kita renungkan bersama pada hari ini mengetengahkan kepada kita satu hal ini yaitu prioritas nilai. Pada ruang dan waktu tertentu hendaknya kita bisa mengutamakan mana yang hendaknya kita dahulukan. Mengapa? agar tidak salah porsi dan salah langkah. Banyak kali ada benturan kepentingan karena orang salah untuk menentukan prioritas nilai. Karena salah menentukan maka salah pula dalam memutuskan.
Kenal dan memiliki hubungan cukup dekat dengan Yesus tidak dengan sendirinya membuat orang tahu apa yang harus dilakukan terhadap Yesus. Kecenderungan kodrati pun tidak cukup dapat diandalkan untuk orang menunjukkan sesuatu yang berkenan di hati Yesus. Itu yang terjadi dalam kisah ini dengan Marta. Ketika Yesus singgah di rumah Marta dan Maria, segera saja Marta mengungkapkan perhatiannya kepada Yesus dengan menyibukkan diri melayani Yesus. Karena hanya ia seorang yang sibuk sedang Maria tidak, Marta menegur Yesus yang tidak menganjurkan Maria membantu Marta.
Salahkah perbuatan Marta? Apa sebab Yesus tidak menegur Maria, sebaliknya malah menegur Marta? Apabila keduanya adalah perbuatan yang ditujukan terhadap Yesus, apa kelebihan perbuatan Maria sehingga mendapat penilaian lebih dari Yesus? Pertanyaan-pertanyaan ini mau tidak mau muncul dari merenungkan bagian ini. Sebenarnya Tuhan Yesus tidak menyalahkan Marta dan menganggap kesibukan melayaninya salah. Pelayanan Marta dapat dianggap baik juga, namun dalam penilaian Yesus tindakan Maria adalah yang terbaik sebab ia memperhatikan hal yang ia perlu.
Kisah ini mendesak kita untuk memeriksa apa yang kita utamakan dalam kita mengikut Yesus. Baik melakukan perbuatan baik demi Yesus maupun memelihara hubungan intim dengan Yesus dalam doa dan perenungan firman, keduanya baik dan penting. Prioritas kita orang modern adalah seperti Marta yang mengutamakan kegiatan. Yesus menginginkan prioritas sebaliknya. Mengapa? Sebab dengan duduk di kaki Yesus dan mendengarkan Yesus, dia adalah ciri seorang murid sejati. Hanya apabila kita selalu lebih dulu mendengarkan suara Yesus kita akan memiliki prioritas hidup yang benar dan mengerti tindakan-tindakan apa harus kita ambil.
Ada banyak kesempatan yang memungkinkan kita untuk datang dan duduk di dekat kaki Yesus. Namun kadang itu bukan yang menjadi prioritas kita. Bisa jadi menurut kita masih ada banyak hal yang harus didahulukan dan diprioritaskan. Maka tak heran kadang ada komentar miring yang muncul, hanya mengingat Tuhan di saat-saat sakit tapi di saat sehat Tuhan dinomorduakan.
Kita sungguh tidak tahu apa yang menyenangkan hati Tuhan kecuali kita selalu memberi telinga bagi suara-Nya. Bagaimana caranya? mari dan duduklah di dekat kaki Yesus!