Kamis, 23 Juli 2015

Bacaan Injil dan Renungan, Matius 13:18-23, Jumat, 24 Juli 2015

Mat 13:18
Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu.
Mat 13:19
Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan.
Mat 13:20
Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira.
Mat 13:21
Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad.
Mat 13:22
Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.
Mat 13:23
Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat."

MENJADI TANAH YANG BAIK
Banyak kali kita mendengar ungkapan iman “tempelan” atau iman “KTP”, iman “napas” (natal – paskah). Ungkapan-ungkapan ini mau menggambarkan kehidupan iman seseorang. Mendengar atau membaca ungkapan-ungkapan ini tentu kita sudah bisa membayangkan makna dan artinya.
Bacaan Injil yang kita renungkan bersama pada hari ini menampilkan ungkapan-ungkapan di atas dalam bahasa yang lebih mendalam dan menyentuh. Penginjil Matius dalam warta sabdanya ini menampilkan perumpamaan Yesus tentang penabur dan jenis-jenis tanah tempat benih itu jatuh. Ada tanah di pinggir jalan, ada tanah yang berbatu-batu, ada tanah yang penuh dengan semak berduri dan ada tanah yang baik. Sebagian jatuh di tanah yang baik, dan sayang sekali bahwa benih yang baik ini tidak selalu jatuh ke tanah yang baik. Begitulah gambaran orang-orang yang mendengar firman itu dan mengerti. Perhatikanlah, walaupun ada banyak orang menerima anugerah Allah dan firman-Nya secara sia-sia, namun Allah masih mempunyai sisa-sisa umat-Nya yang menerima benih itu dan berbuah, sebab firman Allah tidak akan kembali kepada-Nya dengan sia-sia.
Hal yang membedakan tanah yang baik ini dengan jenis tanah lainnya hanyalah satu kata, yaitu berbuah. Seorang penabur ketika menaburkan benih pasti yang diharapkan adalah hasil dari benih itu. Bila tanpa hasil maka benih yang ditaburkan itu menjadi sia-sia. Hal inilah yang membedakan mana murid yang sejati dan mana yang bukan yaitu bahwa mereka berbuah banyak dan dengan demikian layak untuk disebut pengikut Kristus yang sejati. Yang menarik adalah bahwa Yesus berkata bahwa tanah yang baik tidak mendapatkan hambatan untuk berbuah. Mengapa? karena tanah itu sudah disiapkan dengan baik untuk menyimpan benih itu dalam kandungannya dan kemudian bertumbuh lalu menghasilkan buah.
Iman yang sejati adalah iman yang menghasilkan buah. Menghasilkan buah berarti siap untuk berbagi dengan yang lainnya, karena tidak mungkin buah itu hanya ada untuk diri sendiri. Bagaimana caranya agar benih itu terus bertumbuh dan berbuah? Gemburkanlah selalu ladang hati kita dengan kehidupan doa yang baik, siramilah selalu dengan sabda Tuhan, singkirkanlah penghalang-penghalang yang memperlambat pertumbuhan benih. Mari kita menjadi tanah yang baik bagi benih Sabda Tuhan dan terus berbuah dalam kelimpahan.


Rabu, 22 Juli 2015

Bacaan Injil dan renungan, Matius 13:10-17, Kamis, 23 Juli 2015

Mat 13:10
Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: "Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?"
Mat 13:11
Jawab Yesus: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak.
Mat 13:12
Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.
Mat 13:13
Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti.
Mat 13:14
Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap.
Mat 13:15
Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka.
Mat 13:16
Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar.
Mat 13:17
Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.

CARA MENGAJAR ALLAH
Proses beriman identik dengan sebuah proses belajar. Di bangku sekolah kita belajar banyak hal yang belum kita mengerti. Ketika kita tidak mengerti suatu pelajaran yang harus kita lakukan adalah banyak bertanya. Jadi, orang yang tumbuh dalam pengertiannya adalah orang yang memelihara sikap haus belajar dan berani bertanya.

Dalam kisah Injil yang kita renungkan ini, hal yang sama ditemukan dalam diri para murid. Para murid tidak mengerti mengapa Yesus mengajar dengan perumpamaan. Yesus memakai perumpamaan untuk beberapa fungsi. Pertama, untuk menegaskan sifat rahasia Kerajaan Surga. Untuk masuk Kerajaan Surga, perlu pembukaan yang datang dari pihak Allah yang harus ditanggapi dengan iman. Jadi, inisiatif Allah mutlak diperlukan, baik untuk menyatakan rahasia Kerajaan Allah maupun untuk membimbing orang agar merespons pewartaan Kerajaan Allah itu dengan iman. Kedua, perumpamaan berakibat ganda. Kepada orang yang dikaruniai hati responsif akan terjadi proses bertanya, mencari, beroleh tuntunan, dan aktif mengimani. Orang itu akan mengalami pertumbuhan rohani. Untuk orang yang cuek, perumpamaan akan membuat Kerajaan Surga semakin tertutup baginya bahkan membuat orang itu mengalami proses pembutaan rohani lebih lanjut.

Dampak perumpamaan yang memisahkan pendengar ke dalam dua kelompok itu kini terjadi. Para murid langsung menyatakan ketidakmengertian mereka kepada Yesus. Ini adalah langkah iman. Akibatnya, Yesus memberikan penjelasan dan menerangi hati mereka. Orang banyak tidak demikian. Mereka bertahan dalam kegelapan pikiran dan hati mereka. Karena mereka tidak percaya, maka arti dan makna Kerajaan Allah tertutup bagi mereka. Bahkan, itu menjadi pesan penghukuman bagi mereka. Akan tetapi, bagi yang percaya perumpamaan menyingkapkan arti dan makna Kerajaan Allah.

Dalam kehidupan iman kita, iman itu hanya akan tumbuh dengan subur serta berbuah bila kita sanggup untuk memelihara sikap terbuka untuk belajar dan diajar Tuhan, sebab itulah tanda iman yang bertumbuh. Tuhan mengajar kita melalui aneka pengalaman hidup kita. Maka hendaknya berbagai kisah yang ada dalam hidup kita, perlu untuk kita lihat menggunakan kaca mata iman kita, apapun itu. Mengapa demikian? karena Allah selalu menyapa melalui pengalaman harian hidup kita.

Selasa, 21 Juli 2015

Bacaan Injil dan Renungan, Pesta Santa Maria Magdalena, Yohanes 20:1-18, Rabu, 22 Juli 2015

Yoh 20:1
Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur.

Yoh 20:11
Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu,
Yoh 20:12
dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring.
Yoh 20:13
Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab Maria kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan."
Yoh 20:14
Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.
Yoh 20:15
Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya."
Yoh 20:16
Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru.
Yoh 20:17
Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu."
Yoh 20:18
Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.

IBU, MENGAPA ENGKAU MENANGIS?

Saya mengawali renungan hari ini dengan puisi tentang IBU karya Kahlil Gibran, pujangga asal Lebanon.
IBU
Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir – bibir manusia.  Dan “Ibuku” merupakan sebutan terindah.
Kata yang semerbak cinta dan impian, manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa.
Ibu adalah segalanya. Ibu adalah penegas kita di kala lara, impian kita dalam rengsa, rujukan kita di kala nista.
Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan dan toleransi. Siapa pun yang kehilangan ibunya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa merestui dan memberkatinya.
Alam semesta selalu berbincang dalam bahasa ibu. Matahari sebagai ibu bumi yang menyusuinya melalui panasnya.
Matahari tak akan pernah meninggalkan bumi sampai malam merebahkannya dalam lentera ombak, syahdu tembang beburungan dan sesungaian.
Bumi adalah ibu pepohonan dan bebungaan. Bumi menumbuhkan, menjaga dan membesarkannya. Pepohonan dan bebungaan adalah ibu yang tulus memelihara bebuahan dan bebijian.
Ibu adalah jiwa keabadian bagi semua wujud. Penuh cinta dan kedamaian.

Hari ini kita merayakan Pesta Santa Maria Magdalena, sosok yang begitu akrab dengan kisah kebangkitan Tuhan. Maria Magdalena adalah sosok pertama yang menjadi saksi kebangkitan Tuhan. Maka bolehlah kita katakan bahwa wanita adalah saksi pertama kebangkitan Tuhan. Yesus menyapa Maria Magdalena dengan kata Ibu. Sebuah sapaan yang begitu dalam arti dan maknanya. Mengapa ia disapa sebagai Ibu? karena  keteguhan dan kesungguhan kasih sayang Maria Magdalena terhadap Tuhan Yesus, Ia tetap tinggal di kubur, setelah Petrus dan Yohanes pergi, karena di sanalah Tuannya terbaring. Kesetiaannya inilah yang membuatnya layak untuk disapa sebagai ibu. Di mana ada kasih yang sejati terhadap Kristus, di situ ada kesetiaan yang teguh kepada-Nya, dan tekad hati yang bulat untuk terus melekat kepada-Nya. Perempuan yang baik ini, meskipun telah kehilangan Kristus, namun, daripada disangka meninggalkan Dia, ingin tetap tinggal di samping kubur-Nya demi Dia, dan terus berada di dalam kasih-Nya sekalipun ia telah kehilangan penghiburan dari kasih-Nya itu. Di mana ada keinginan yang sungguh-sungguh untuk mengenal Kristus, di situ akan ada penggunaan sarana pengetahuan secara terus-menerus pada hari yang ketiga Ia akan membangkitkan kita. Dan kita akan mengetahui arti kebangkitan itu, jika kita tetap ingin mengetahuinya, seperti yang diperbuat Maria di sini.
Ia tinggal di sana sambil menangis, dan air mata ini berbicara dengan lantang akan kasih sayangnya terhadap Tuannya. Orang-orang yang telah kehilangan Kristus mempunyai alasan untuk menangis. Ia menangis bila mengingat penderitaan-penderitaan-Nya yang begitu pahit. Ia menangis untuk kematian-Nya, dan untuk kehilangan yang diderita olehnya, oleh teman-temannya, dan oleh bangsanya karena kematian-Nya itu. Ia menangis bila membayangkan ia harus pulang tanpa-Nya, menangis karena sekarang ia tidak mendapati mayat-Nya. Orang-orang yang mencari Kristus harus mencari-Nya dengan cemas, harus menangis, bukan untuk Dia melainkan untuk diri mereka sendiri.
Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, agar matanya dapat mempengaruhi hatinya. Ketika kita sedang mencari sesuatu yang hilang, kita terus-menerus melihat kembali ke tempat kita terakhir kali meninggalkan sesuatu yang hilang itu, dan berharap akan menemukannya di sana. Ia akan mencari sebanyak tujuh kali, tanpa mau tahu kecuali bahwa pada akhirnya dia boleh mendapatkan sedikit banyak pengharapan. Kita belajar bahwa tangisan tidak boleh menghalang-halangi pencarian. Meskipun ia menangis, ia menjenguk ke dalam kubur karena orang-orang akan menemukan apa yang mereka cari adalah mereka yang mencari dengan tulus, yang mencari dengan cucuran air mata.
Ibu, mengapa engkau menangis sedangkan engkau mempunyai alasan untuk bersukacita?" Kebanyakan banjir air mata kita akanmengering apabila kita melakukan penyelidikan seperti ini, yaitu mencari tahu apa yang menjadi sumbernya. Mengapa engkau tertekan?
Pertanyaan itu dirancang untuk menunjukkan betapa besarnya kepedulian para malaikat terhadap dukacita orang-orang kudus, karena malaikat-malaikat itu ditugasi untuk memberikan penghiburan kepada mereka. Pertanyaan itu hanya sebagai kesempatan untuk memberi tahu dia apa yang akan mengubah ratapannya menjadi nyanyian, yang akan membuka kain kabungnya, dan mengikat pinggangnya dengan sukacita.
Orang-orang yang memiliki kasih sayang sejati terhadap Kristus pasti merasakan penderitaan yang sangat besar apabila mereka kehilangan tanda-tanda penghiburan dari kasih-Nya di dalam jiwa mereka. Pencarian Maria Magdalena tidak terganggu oleh penglihatan yang mengejutkan itu, dan juga tidak merasa puas dengan kehormatan yang diperolehnya dengan penglihatan itu. Sebaliknya, tetap saja dia mengalunkan lagu yang sama: "Tuhanku telah diambil orang." Penglihatan akan para malaikat dan senyuman mereka tidak akan cukup tanpa penglihatan akan Kristus dan senyuman Allah di dalam Dia. Bahkan, penglihatan akan para malaikat itu justru lebih membuat dia terus bertanya-tanya tentang Kristus. Semua makhluk, bahkan yang paling istimewa dan yang paling kita sayangi pun, harus dipakai sebagai sarana, tetapi hanya sebagai sarana, untuk membuat kita lebih mengenal Allah di dalam Kristus. Para malaikat bertanya kepadanya, "Mengapa engkau menangis?""Aku mempunyai cukup alasan untuk menangis," katanya, "karena Tuhanku telah diambil orang, Siapa yang akan memulihkan semangat yang patahseperti ini?
Penampakan Kristus kepadanya ketika dia sedang berbicara dengan malaikat-malaikat itu, dan sedang memberitahukan kepada mereka permasalahannya. Sebelum mereka memberinya jawaban, Kristus sendiri turun tangan, untuk memuaskan pencariannya. Tidak ada yang lain kecuali Dia sendiri yang dapat membimbing kita kepada-Nya. Maria dengan senang hati ingin mengetahui di mana Tuannya, dan lihatlah, Tuhan berada di sebelah kanannya.
Ibu, mengapa engkau menangis? DIA selalu ada di samping kananmu!




Minggu, 19 Juli 2015

Bacaan Injil Dan Renungan: Matius 12:38-42, Senin, 20 Juli 2015

Mat 12:38
Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: "Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu."
Mat 12:39
Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.
Mat 12:40
Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.
Mat 12:41
Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!
Mat 12:42
Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama angkatan ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo!"

Dalam keseharian hidup kita, sering kita temukan banyak tanda dan simbol untuk memaknai sesuatu. Akan tetapi banyak kali tanda atau simbol ini justru membuat orang ragu-ragu akan kebenaran suatu hal. Di lain pihak, orang kadang menuntut sebuah bukti yang kongkrit untuk membuatnya menjadi percaya akan suatu hal.
Kisah Injil yang kita renungkan ini juga menggambarkan bagaimana Kristus menolak memberi mereka tanda lain apa pun kepada orang-orang farisi selain tanda yang sudah diberikan-Nya kepada mereka, yaitu tanda Nabi Yunus. Walaupun Kristus selalu bersedia mendengarkan dan menjawab keinginan-keinginan serta doa-doa yang kudus, Ia tidak akan mau memuaskan hawa nafsu dan tindakan-tindakan yang jahat. Jika orang salah meminta,maka mereka meminta dan tidak diberi. Tanda akan dikabulkan bagi orang yang menginginkan tanda itu untuk menguatkan iman mereka, seperti Abraham dan Gideon, tetapi tidak akan diberikan kepada orang yang menuntut tanda itu hanya untuk mencari-cari alasan untuk tidak percaya. Adil saja bagi Kristus seandainya Ia mengatakan bahwa mereka tidak akan pernah melihat mujizat lagi. Tetapi lihatlah kebaikan-Nya yang mengagumkan: Mereka akan menerima satu tanda yang berbeda dari semua tanda sebelumnya, yaitu kebangkitan Kristus dari antara orang mati dengan kekuatan-Nya sendiri, yang di sini disebut dengan tanda Nabi Yunus. Tanda yang akan diberikan untuk meyakinkan mereka ini masih disimpan. Tanda ini dimaksudkan untuk menjadi bukti agung bahwa Kristus adalah Mesias, sebab dengan tanda inilah Ia dinyatakan sebagai Anak Allah yang berkuasa. Itulah tanda yang melebihi semua tanda lain, tanda yang melengkapi dan memahkotai tanda-tanda lainnya. Namun demikian, bahkan untuk tanda yang besar ini pun orang-orang Yahudi yang tidak percaya itu masih bisa menemukan cara untuk menghindari dan memutarbalikkannya, dengan berkata, "Murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya." Orang buta yang sangat susah disembuhkan adalah orang buta yang sudah berketetapan hati untuk tidak mau melihat.

Apakah kita pun masih seperti orang-orang farisi yang meragukan karya Kristus untuk diri kita masing-masing? Kristus adalah tanda kasih yang tanpa batas dari Allah bagi kita. Mari kita tempatkan DIA sebagai anugerah yang istimewa untuk diri kita dalam hati kita masing-masing. 

Sabtu, 18 Juli 2015

BACAAN INJIL DAN RENUNGAN: MINGGU BIASA XVI, MARKUS 6:30-34, MINGGU, 19 JULI 2015




Mrk 6:30 Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan.


Mrk 6:31 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat.


Mrk 6:32 Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi.


Mrk 6:33 Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka.


Mrk 6:34 Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.


MARI KITA KE TEMPAT YANG SUNYI

Ada banyak hal yang bisa kita renungkan bersama berangkat dari teks injil yang barusan kita dengar bersama tadi. Tapi pada kesempatan ini saya mengajak kita sekalian untuk bersama2 kita merenungkan satu ajakan yang berasal dari Yesus dari kutipan injil tadi, mari kita pergi ke tempat yang sunyi. Berbicara tentang tempat yang sunyi, saya yakin bahwa sekurang-kurangnya pernah dalam hidup, kita mengalami keadaan ini. Tetapi tak jarang ada orang yang takut atau tidak berani berada di tempat yang sunyi. Ada banyak hal yang menjadi alasannya, tetapi alasan klasik yang sering terdengar adalah bahwa sunyi itu membosankan. Apalagi dalam dunia jaman sekarang, orang selalu berusaha untuk mencari yang namanya keramaian. Naik motor saja masih pasang headset di telinga, adapula yang sambil terima telpon atau sms dan bbm. Kalau pun tidak mencari keramaian sekurang2nya menciptakan keramaian itu sendiri. Ada juga yang takut menciptakan keheningan dan kesunyian dalam hati karena takut pada diri sendiri, pada bayang masa lalu dan sebagainya, solusi instannya mencari keramaian. Pada kesempatan ini Yesus mengajak kita sekalian, mari kita ke tempat yang sunyi. Yesus tidak mengatakan mari kita ke tempat yang ramai atau yang gaduh dan lain sebagainya. Mengapa harus ke tempat yang sunyi? Karena dengan ke tempat yang sunyi orang diajak untuk masuk ke dalam dirinya sendiri. Menciptakan keheningan dalam diri dan dalam keheningan ini orang akan menemukan siapa dirinya terlebih menemukan Tuhan dalam keheningan itu sendiri. Bila kita kembali ke dunia perjanjian lama terutama dalam kitab kejadian di sana dikisahkan bagaimana Allah menciptakan segala sesuatu dalam keheningan. Ataupun Yesus, sebelum memulai karyaNya, ia menuju pada kesunyian padang gurun. Bila Allah menjadikan hal-hal yang besar dari sebuah keheningan, bila Yesus mengawali karyanya dengan mengundurkan diri ke tempat yang sunyi, bagaimana dengan saya dan anda sekalian. Hendaknya kita pun berusaha untuk demikian. Berusaha untuk masuk dalam keheningan, mengawali segala sesuatu dengan sebuah keheningan. Dalam keheningan kita akan menciptakan keintiman, keakraban bersama Allah atau dengan kata lain, menciptakan suasana hening dalam diri untuk bertemu Tuhan dalam doa, menjalin keakraban bersama Tuhan dalam sebuah keheningan hati. Ajakan Yesus, mari kita ke tempat yang sunyi bukan berarti menghindari keramaian , menghindari orang lain, menghindari kesibukan tetapi sebetulnya adalah sebuah ajakan untuk masuk dalam sebuah keintiman, keakraban dengan Allah dalam doa. Hanya dengan keheningan hati, orang akan mampu mendengarkan bisikan lembut yang berasal dari Tuhan. Bagaimana mungkin hati yang bising, hati yang hiruk pikuk mampu untuk mendengarkan suara Tuhan? Dan doa yang baik adalah doa yang lahir dari sebuah keheningan, adalah doa yang lahir dari sebuah iman. Tanpa keheningan, tanpa iman maka doa hanya akan menjadi sebuah rutinitas yang hampa tanpa arti. Bagaimana kita bisa mendengar suara Allah bila ada kegaduhan dalam diri kita? Doa yang baik adalah doa yang lahir dari sebuah iman yang mendalam di mana dalam doa itu kita berkata-kata dengan Allah dan tentang Allah. dalam doa, ungkapkan apa yang ada dalam hatimu dan imanmu karena Allah tahu apa yang menjadi kebutuhanmu. Hal-hal yang besar hanya akan terjadi bila mengawalinya dengan sebuah keheningan, dengan sebuah doa. Mari kita ke tempat yang sunyi, mari kita menemukan Tuhan dalam keheningan. Mari kita jadikan doa sebagai sebuah kebiasaan. Jangan takut untuk masuk dalam sebuah keheningan, karena melalui keheningan kita mencapai kebeningan jiwa dan semakin menyatu dengan Tuhan dalam sebuah relasi penuh keintiman.