Minggu, 05 Juli 2015
Bacaan Injil dan Renungan: Matius 9:18-26; Senin, 6 Juli 2015
Mat 9:18Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata: "Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup."
Mat 9:19Lalu Yesuspun bangunlah dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya.
Mat 9:20Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya.
Mat 9:21Karena katanya dalam hatinya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."
Mat 9:22Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau." Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.
Mat 9:23Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut,
Mat 9:24berkatalah Ia: "Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur." Tetapi mereka menertawakan Dia.
Mat 9:25Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu.
Mat 9:26Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu.
RENUNGAN
Ada dua teladan iman yang bisa kita renungkan berangkat dari teks Injil Matius ini yaitu iman dari kepala rumah ibadat dan perempuan yang sakit pendarahan. Teladan yang pertama, iman kepala rumah ibadat. Ketika mendapati anak yang dikasihinya meninggal, ia berlari kepada Yesus, sumber kehidupan. Ia tidak peduli dengan nyanyian penuh duka dari orang –orang meniup seruling dan para pengunjung yang datang melayat, ia tidak larut dalam duka cita, tetapi imannya menggerakannya untuk datang kepada sumber penghiburan sejati, Yesus. Saat ia sujud menyembah di hadapan Yesus, saat itu ia mendapatkan penghiburan.
Teladan iman yang kedua, ada pada wanita yang sakit pendarahan. Dalam kepadatan manusia yang berdesak-desakan untuk melihat Yesus, wanita yang sakit pendarahan selama 12 tahun ini mendekati dan menjamah YESUS dengan IMAN, saat itu juga ada kuasa yang keluar dari YESUS menyembuhkan si wanita ini. Sesuatu yang dia dengar tentang YESUS membangkitkan IMAN-nya dan membuatnya percaya bahwa YESUS sanggup menyembuhkan penyakitnya. Si wanita ini percaya terlebih dahulu pada kebaikan, kemurahan, dan kuasa YESUS, sebelum melihat mukjizat terjadi pada dirinya. Tubuhnya masih kesakitan ketika dia berkata, “Asal kujamah saja jubahNYA, aku akan sembuh,” tetapi dengan IMAN-nya dia percaya bahwa YESUS telah memberikan kesembuhan tersebut baginya. Sesaat jubah YESUS dipegangnya, kesembuhan terjadi.
Dengan cara yang sama TUHAN ingin Kita mempercayaiNYA. TUHAN ingin kita percaya kepada setiap janji dan perkataan yang telah diucapkanNYA. Tidak peduli seberapa buruk kondisi Kita hari ini atau seberapa jauh Kita telah meninggalkanNYA, di saat Kita percaya dengan IMAN Kita, dan mulai mendekat menyembah serta menjamah jubahNYA, Kita akan melihat sesuatu yang besar terjadi di dalam hidup Kita, sesuatu yang mengubah, memulihkan, dan menggerakan Kita. menjamah jubah Yesus, itu berarti kita bergerak mendekati Dia, tidak mungkin kita menyentuh jubah Yesus dari jauh tetapi harus dekat. Bergerak mendekati Yesus itu berarti kita membangun sebuah keintiman, membangun sebuah relasi dengan Yesus yang sanggup untuk menyembuhkan. menjamah jubah Yesus itu juga berarti kita menyadari kerapuhan dan keterbatasan diri kita sebagai seorang manusia di hadapan Tuhan yang Maha Besar. ketika kita menyadari siapa diri, menyadari kerapuhan dan keterbatasan yang ada dalam diri kita maka ketika itu kemahakuasaan dan kebesaran Tuhan akan mengangkat kita dan berkata, "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau." mari kita selalu berusaha “mendekati” Yesus agar kita mampu menjamah jumbai jubah-nya, karena jarak antara setiap masalah kita dan solusinya, karena jarak antara kita dan Tuhan hanya sejauh lutut dan lantai. Amin.
Sabtu, 04 Juli 2015
Renungan Dan Bacaan Injil Minggu Biasa XIV, Markus 6:1-6; Minggu, 5 Juli 2015
|
Mrk 6:1
|
Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di
tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia.
|
|
Mrk 6:2
|
Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat
dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata:
"Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan
kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan
oleh tangan-Nya?
|
|
Mrk 6:3
|
Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara
Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang
perempuan ada bersama kita?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.
|
|
Mrk 6:4
|
Maka Yesus berkata kepada mereka: "Seorang nabi
dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum
keluarganya dan di rumahnya."
|
|
Mrk 6:5
|
Ia tidak dapat mengadakan satu mujizatpun di sana,
kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas
mereka.
|
|
Mrk 6:6
|
Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka. (6-6b)
Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar.
|
Renungan:
Bagaimana perasaan anda ketika ditolak? misalnya
ketika melamar pekerjaan ke sana kemari namun pada akhirnya ditolak, ketika
menyatakan cinta tapi ujung-ujungnya ditolak, bahkan yang paling parah ketika
anda ditolak oleh keluarga anda sendiri atau pasangan hidup anda? tentu bahwa
ada berbagai macam perasaan yang bercampur aduk dalam hati dan diri. Ada
perasaan marah, jengkel, sakit hati, benci, putus asa, frustrasi dan lain
sebagainya. Hal ini tentu lumrah karena bagi manusia siapapun dia pasti menginginkan
perasaan ingin dicintai, diterima, dihormati.
Injil yang kita dengar bersama pada
hari ini mengisahkan tentang Yesus yang “mudik” ke Nazareth. Namun ternyata
reaksi orang-orang Nazaret terhadap Yesus justru berupa sebuah penolakan. Yesus
ditolak oleh orang-orang sekampung halaman-Nya. Bukankah sebaliknya mereka
harus berbangga karena seorang nabi dan Mesias justru dibesarkan di kota mereka,
mereka itu orang-orang sekampung halaman-Nya yang mestinya mengenal dengan baik
Yesus selama ini. Mereka mestinya menjadi orang-orang yang akan mendukung karya
Yesus. Bukankah biasanya warga desa atau kota tempat seorang tokoh berasal akan
mendukung habis-habisan apabila tokoh tersebut sedang ikut berlomba atau
bertanding di suatu turnamen atau apa? Ingat saja contoh bagaimana warga kota
mendukung putra atau putrinya yang sedang ikut Indonesian idol. Pada
kasus di Nazaret lain. Ternyata orang-orang Nazaret menolak Yesus. Bagaimana
pula perasaan Ibu Maria ketika menyaksikan Yesus yang diusir dan bahkan mau
dibunuh itu? Kiranya juga tidak sedikit orang yang menyimpan kekaguman kepada
Yesus. Namun kini mereka harus menyaksikan sendiri hal yang amat menyakitkan
dari seorang warga dari kampung Nazaret: diusir dan bahkan diancam untuk
dibunuh! Bisa dibayangkan betapa Bunda Maria, saudara-saudari Yesus, dan para
pengagum-Nya tentu sedih bukan main.? Yesus seakan-akan gagal dalam pewartaan di kampung halaman-Nya. Yesus heran
dengan sikap penolakan dan ketidakpercayaan orang-orang sekampungnya. Pertanyaannya:
mengapa Yesus ditolak oleh orang-orang sekampung halaman-Nya, Nazaret? Penginjil
markus memberikan kepada kita sebuah alasan yaitu karena Yesus hanya seorang
anak tukang kayu yang sederhana, anak dari seorang wanita yang sederhana,
bagaimana mungkin memperoleh kebijaksanaan yang luar biasa itu?
Maksud dari penginjil Markus menampilkan
alasan ini karena mau menyampaikan pesan kepada kita, betapa Yesus menghayati
suatu syarat yang paling pokok menjalankan suatu karya pelayanan yaitu
kemerdekaan batin atau kebebasan hati. Dalam diri Yesus terpancarlah suatu
kemerdekaan batin yang luar biasa. Ia bisa bicara, mengajar dan berbuat dengan bebas sesuai dengan kebenaran yang harus Ia
wartakan, yakni Kerajaan Allah. Yesus tidak ambil pusing dengan reaksi dan
tanggapan orang. Yesus tidak mencari popularitas atau penggemar. Yesus tidak
ambil peduli terhadap pencemaran nama baik-Nya. Ia tidak peduli dengan reaksi
orang: menjadi suka atau mengagumi atau sebaliknya marah atau bahkan
membenci-Nya. Pada saat berkarya itu, Yesus tidak memilih apa yang
menguntungkan posisi-Nya atau apa yang memberikan keuntungan macam-macam hal
untuk diri-Nya, entah keuntungan sosial, ekonomis, politis, ataupun psikologis.
Yesus hadir dan tampil sesuai dengan tugas yang diberikan Bapa-Nya. Ia berkarya
siang dan malam untuk mewartakan dan menghadirkan Kerajaan Allah di tengah
bangsa-Nya. Di situ Yesus bersikap merdeka atau lepas bebas. Dia lepas bebas
dan tidak ambil pusing dengan soal kesuksesan, ketenaran, nama baik, harga
diri, kehormatan, dan tetek bengek lain yang biasa dicari orang dunia ini.
Pertanyaan refleksi untuk saya anda
dan saudara sekalian? sudah berapa kali kita menolak Yesus dalam hidup dan diri
kita, dalam pengalaman2 hidup kita? Banyak pengalaman menunjukkan bahwa Yesus
banyak kali ditolak atau dengan kata yang agak lebih kasar, Yesus banyak kali
digadaikan dan dijual hanya karena cinta, hanya karena jabatan, hanya karena
uang dan alasan-alasan lainnya. Bisa kita bayangkan bagaimana perasaan Yesus
ketika kita memperlakukannya demikian? tentu Yesus sedih dan kecewa. Dalam
relasi horisontal antara kita dan sesama kita, mungkin banyak kali kita pun
menolak Yesus yang hadir dalam diri sesama kita alasannya karena kita lebih
cenderung untuk menilai seseorang dari tampilan fisik, apa yang dikenakannya,
apa yang dipakainya, dan dari keluarga mana orang itu berasal, latar belakang
pendidikan dan lain sebagainya. Ingat bahwa Yesus ditolak di Nazareth hanya
karena orang tuanya adalah orang yang sederhana, hanyalah seorang anak tukang
kayu dan ibu rumah tangga sederhana.
Melalui kisah injil yang kita
renungkan bersama ini, mari kita membuka pintu hati kita lebar-lebar agar Yesus
berdiam selamanya di hati dan hidup kita. Kita memperlakukan sesama kita dengan
sewajarnya dengan keyakinan bahwa ada wajah Tuhan yang tersamar dalam diri
sesama kita. Dengan semuanya itu bolehlah kita berseru, Yesus aku mencintaiMu
dengan sungguh, amin.
Jumat, 03 Juli 2015
BACAAN INJIL DAN RENUNGAN: MATIUS 9:14-17; SABTU, 04 JULI 2015
|
Mat 9:14
|
Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus
dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi
murid-murid-Mu tidak?"
|
|
Mat 9:15
|
Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah
sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama
mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada
waktu itulah mereka akan berpuasa.
|
|
Mat 9:16
|
Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum
susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan
mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya.
|
|
Mat 9:17
|
Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam
kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga
anggur itu terbuang dan kantong itupun hancur. Tetapi anggur yang baru
disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian
terpeliharalah kedua-duanya."
|
Renungan:
Bagi kita orang Kristiani, puasa artinya adalah tanda pertobatan, tanda penyangkalan diri, dan tanda kita mempersatukan sedikit pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib sebagai silih dosa kita dan demi mendoakan keselamatan dunia. Jadi puasa dan pantang bagi kita tak pernah terlepas dari doa. Dengan demikian, pantang dan puasa bagi kita orang Katolik merupakan latihan rohani yang mendekatkan diri pada Tuhan dan sesama, dan bukan untuk hal lain. Dengan mendekatkan dan menyatukan diri dengan Tuhan, maka kehendak-Nya menjadi kehendak kita. Dan karena kehendak Tuhan yang terutama adalah keselamatan dunia, maka melalui puasa dan pantang, kita diundang Tuhan untuk mengambil bagian dalam karya penyelamatan dunia,dengan cara yang paling sederhana, yaitu berdoa dan menyatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib.Bacaan injil pada hari ini berbicara tentang puasa. Ada dua hal yang ditonjolkan oleh penginjil Matius bagi kita yaitu kain yang baru dan kantong kulit yang baru. Kantong kulit yang baru diperlukan karena kantong itu bebas dari semua bekas unsur fermentasi, mis. sel-sel ragi yang sudah matang. Apabila sari buah anggur yang baru dimasukkan ke dalam kantong kulit yang lama, maka sari buah itu akan lebih cepat meragi karena sudah ada sel-sel ragi di dalam kantong kulit yang lama itu. Fermentasi yang terjadi dengan demikian akan merusak baik sari anggur yang baru maupun kantong kulitnya (yang akan pecah karena tekanan proses peragian). Untuk menjaga agar sari buah anggur "tetap manis", maka sari buah tersebut harus dimasukkan ke dalam suatu wadah baru yang tertutup rapat-rapat. Demikian pun kain yang baru, akan menjadi cocok dan indah bila tidak ditambalkan ke kain yang usang.
Puasa hendaknya menghasilkan buah-buah yang manis yaitu pembaharuan diri melalui pertobatan, kehidupan doa yang tulus, berbagi dengan sesama. Bila ini belum dilakukan maka itu ibaratnya anggur yang baru disimpan dalam kantong yang lama, akan merusak kantong itu sendiri, akan merusak kehidupan itu sendiri.
Kamis, 02 Juli 2015
BACAAN INJIL DAN RENUNGAN: YOHANES 20:24-29; PESTA SANTO THOMAS RASUL, 3 JULI 2015
|
Yoh 20:24
|
Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu,
yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke
situ.
|
|
Yoh 20:25
|
Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya:
"Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka:
"Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku
mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam
lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."
|
|
Yoh 20:26
|
Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada
kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara
pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan
berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"
|
|
Yoh 20:27
|
Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah
jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke
dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan
percayalah."
|
|
Yoh 20:28
|
Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan
Allahku!"
|
|
Yoh 20:29
|
Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah
melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat,
namun percaya."
|
RENUNGAN
Ada sebagian orang yang berpendapat “seing is believing”. Mereka perlu melihat bukti dahulu barulah mereka bisa percaya. Bukti yang bisa diinderai itulah yang membuat orang percaya. Dalam kehidupan beriman, ada sebagian orang yang selalu minta bukti. Kalau tidak melihat bukti mereka tidak mau percaya.
Thomas yang pestanya kita rayakan hari ini boleh dibilang memiliki tipe seperti itu. Ia tidak hadir pada saat Tuhan Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya. Ketika mereka memberitahukan kepadanya bahwa mereka telah melihat Tuhan, Bukannya percaya dan bersukacita, tetapi dia justru mengatakan, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.”
Di sini kita melihat sekilas watak Tomas yang boleh dibilang peragu. Ketika Yesus berniat untuk mengunjungi Lazarus setelah menerima kabar perihal sakit yang dideritanya, Thomas malah berkata kepada para murid lainnya demikian: “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia” (Yoh 11: 16). Ketika cintanya kepada Tuhan mulai mendalam, Thomas toh masih juga memperlihatkan sikap ketidak-beraniannya untuk menemani Yesus di saat-saat penderitaan dan penyaliban-Nya. Setelah kematian Yesus, Thomas lagi-lagi membuat “kesalahan” dengan memisahkan diri dari kelompok para murid. Ia lebih memilih untuk menyendiri di saat-saat sulit dan penuh penderitaan daripada menjadi bagian dari sebuah persekutuan para murid. Rasul Thomas juga yang meragukan kesaksian wanita yang telah melihat Tuhan yang bangkit, juga kesaksian para murid Yesus lainnya tentang kebangkitan Tuhan. Apakah Thomas hanya sebatas seorang murid Tuhan yang kurang percaya, seorang yang punya karakter dasar pesismis? Tentu , tidak!, jawabannya! Mengapa?
Ketika akhirnya, Rasul Thomas memiliki keberanian untuk bergabung kembali dengan para murid lainnya, Yesus membuat diri-Nya dikenali olehnya dan menenteramkan hatinya bahwa inilah Dia, Yesus yang sungguh-sungguh telah mengatasi kematian dan bangkit kembali. Serentak dengan itu, Santu Thomas tidak hanya mengenali Tuhan dan Gurunya, tetapi ia sekaligus percaya dengan sepenuh hatinya dan bersaksi bahwa Yesus sungguh Tuhan dan sungguh-sungguh Allah. Suatu pengakuan Tomas yang jujur, dan ini meneguhkan Tomas sampai akhir riwayat hidupnya. Karena kemudian ia menjadi saksi kebangkitan Tuhan yang setia.
Pada Pesta Santo Thomas Rasul ini, marilah kita menyadari bahwa kasih Allah dan pengampunanNya begitu besar untuk kita. Kemaharahiman Allah mampu untuk mempertobatkan Rasul Thomas dari ketidakpercayaannya. Pengalaman yang dialami oleh Tomas sekaligus meneguhkan dia menjadi pelayan Tuhan yang sejati. Pertanyaan bagi kita semua, apakah kita memerlukan pengalaman-pengalaman yang dahsyat atau mukjizat2 yang besar untuk membuat kita lebih percaya?? Berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya, itulah tanda iman yang sejati. Mata fisik membantu kita untuk melihat segala yang diciptakan Tuhan dan memuliakan nama-Nya. Mata iman membantu kita untuk dapat memahami semua misteri Allah yang tak dilihat oleh mata fisik. Mukjizat Tuhan sering terjadi justru kalau kita menggunakan mata iman. Mari kita selalu mempertajam mata iman kita, amin
Rabu, 01 Juli 2015
Bacaan Injil dan Renungan: Matius 9:1-8. Kamis, 2 Juli 2015
Mat 9:1 Sesudah
itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke
kota-Nya sendiri.
Mat 9:2Maka
dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya.
Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu:
"Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni."
Mat 9:3Maka
berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya: "Ia menghujat
Allah."
Mat 9:4Tetapi
Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: "Mengapa kamu memikirkan
hal-hal yang jahat di dalam hatimu?
Mat 9:5Manakah
lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan
berjalanlah?
Mat 9:6Tetapi
supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni
dosa" ?lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu?:"Bangunlah,
angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!"
Mat 9:7Dan orang
itupun bangun lalu pulang.
Mat 9:8Maka orang
banyak yang melihat hal itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan
kuasa sedemikian itu kepada manusia.
RENUNGAN
Dalam membangun relasi dengan sesama, salah satu batu
sandungan yang berpotensi menimbulkan keretakan dalam relasi itu adalah
berpikir negatif tentang orang lain. Kadang pula sebagian orang beranggapan
bahwa sumber dari penyakit untuk diri sendiri adalah dari pikiran yang negatif.
Berpikir negatif itu biasanya muncul dari perasaan iri, dengki, benci dan tidak
puas dengan apa yang dimiliki. Pikiran negatif itu biasanya mengakibatkan :
ketakutan, kekhawatiran, pesimisme, ketidakyakinan, keresahan,
ketidakpercayadirian, dll. Berpikir negatif terhadap sesuatu akan menguras
energi dalam diri dan malah menghasilkan ketidakberhasilan dalam suatu
pencapaian dan merusak hubungan atau relasi dengan sesama.
Injil yang direnungkan pada hari ini menampilkan sisi
lain dari beberapa orang ahli taurat. Mereka cenderung berpikir negatif tentang
Yesus. Ketika orang lumpuh disembuhkan, para ahli taurat ini malah memiliki
keyakinan bahwa Yesus menghujat Allah. Ketika Yesus melakukan kebaikan dan
belas kasih, itu dilihat oleh para ahli taurat sebagai upaya untuk merongrong
kekuasaan Allah. Apakah kebaikan itu bertentangan dengan Allah yang merupakan
sumber kebaikan itu sendiri? Disinilah letak kecenderungan berpikir negatif
yang dimiliki para ahli taurat. Menurut Yesus cara berpikir demikian termasuk
dalam kategori kejahatan. "Mengapa
kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Para ahli
taurat lebih mudah untuk menemukan apa yang menurut mereka salah ketimbang
menemukan hal-hal yang baik. Hal ini terjadi karena pikiran negatif itu
sendiri.
Melalui Kisah Injil ini, Yesus mengajak
kita untuk senantiasa melihat sisi positif dalam setiap peristiwa hidup, dalam
setiap relasi, dalam setiap perjumpaan dalam hari-hari hidup kita. Untuk mampu
melihat sisi positif itu maka kita perlu membiasakan diri untuk berpikir
positif. Pikiran yang sehat tentu akan sangat berguna bagi diri sendiri dan
bagi orang lain. Dengan berpikir postif, kita telah menjadi saluran rahmat dan
berkat bagi sesama kita.
Langganan:
Postingan (Atom)