Minggu, 05 Juli 2015

Bacaan Injil dan Renungan: Matius 9:18-26; Senin, 6 Juli 2015



Mat 9:18Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata: "Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup."

Mat 9:19Lalu Yesuspun bangunlah dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya.

Mat 9:20Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya.

Mat 9:21Karena katanya dalam hatinya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."

Mat 9:22Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau." Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.

Mat 9:23Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut,

Mat 9:24berkatalah Ia: "Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur." Tetapi mereka menertawakan Dia.

Mat 9:25Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu.

Mat 9:26Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu.



RENUNGAN
Ada dua teladan iman yang bisa kita renungkan berangkat dari teks Injil Matius ini yaitu iman dari kepala rumah ibadat dan perempuan yang sakit pendarahan. Teladan yang pertama, iman kepala rumah ibadat. Ketika mendapati anak yang dikasihinya meninggal, ia berlari kepada Yesus, sumber kehidupan. Ia tidak peduli dengan nyanyian penuh duka dari orang –orang meniup seruling dan para pengunjung yang datang melayat, ia tidak larut dalam duka cita, tetapi imannya menggerakannya untuk datang kepada sumber penghiburan sejati, Yesus. Saat ia sujud menyembah di hadapan Yesus, saat itu ia mendapatkan penghiburan.

Teladan iman yang kedua, ada pada wanita yang sakit pendarahan. Dalam kepadatan manusia yang berdesak-desakan untuk melihat Yesus, wanita yang sakit pendarahan selama 12 tahun ini mendekati dan menjamah YESUS dengan IMAN, saat itu juga ada kuasa yang keluar dari YESUS menyembuhkan si wanita ini. Sesuatu yang dia dengar tentang YESUS membangkitkan IMAN-nya dan membuatnya percaya bahwa YESUS sanggup menyembuhkan penyakitnya. Si wanita ini percaya terlebih dahulu pada kebaikan, kemurahan, dan kuasa YESUS, sebelum melihat mukjizat terjadi pada dirinya. Tubuhnya masih kesakitan ketika dia berkata, “Asal kujamah saja jubahNYA, aku akan sembuh,” tetapi dengan IMAN-nya dia percaya bahwa YESUS telah memberikan kesembuhan tersebut baginya. Sesaat jubah YESUS dipegangnya, kesembuhan terjadi.

Dengan cara yang sama TUHAN ingin Kita mempercayaiNYA. TUHAN ingin kita percaya kepada setiap janji dan perkataan yang telah diucapkanNYA. Tidak peduli seberapa buruk kondisi Kita hari ini atau seberapa jauh Kita telah meninggalkanNYA, di saat Kita percaya dengan IMAN Kita, dan mulai mendekat menyembah serta menjamah jubahNYA, Kita akan melihat sesuatu yang besar terjadi di dalam hidup Kita, sesuatu yang mengubah, memulihkan, dan menggerakan Kita. menjamah jubah Yesus, itu berarti kita bergerak mendekati Dia, tidak mungkin kita menyentuh jubah Yesus dari jauh tetapi harus dekat. Bergerak mendekati Yesus itu berarti kita membangun sebuah keintiman, membangun sebuah relasi dengan Yesus yang sanggup untuk menyembuhkan. menjamah jubah Yesus itu juga berarti kita menyadari kerapuhan dan keterbatasan diri kita sebagai seorang manusia di hadapan Tuhan yang Maha Besar. ketika kita menyadari siapa diri, menyadari kerapuhan dan keterbatasan yang ada dalam diri kita maka ketika itu kemahakuasaan dan kebesaran Tuhan akan mengangkat kita dan berkata, "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau." mari kita selalu berusaha “mendekati” Yesus agar kita mampu menjamah jumbai jubah-nya, karena jarak antara setiap masalah kita dan solusinya, karena jarak antara kita dan Tuhan hanya sejauh lutut dan lantai. Amin.



Sabtu, 04 Juli 2015

Renungan Dan Bacaan Injil Minggu Biasa XIV, Markus 6:1-6; Minggu, 5 Juli 2015

Mrk 6:1
Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia.
Mrk 6:2
Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: "Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya?
Mrk 6:3
Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.
Mrk 6:4
Maka Yesus berkata kepada mereka: "Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya."
Mrk 6:5
Ia tidak dapat mengadakan satu mujizatpun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka.
Mrk 6:6
Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka. (6-6b) Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar.

Renungan:
Bagaimana perasaan anda ketika ditolak? misalnya ketika melamar pekerjaan ke sana kemari namun pada akhirnya ditolak, ketika menyatakan cinta tapi ujung-ujungnya ditolak, bahkan yang paling parah ketika anda ditolak oleh keluarga anda sendiri atau pasangan hidup anda? tentu bahwa ada berbagai macam perasaan yang bercampur aduk dalam hati dan diri. Ada perasaan marah, jengkel, sakit hati, benci, putus asa, frustrasi dan lain sebagainya. Hal ini tentu lumrah karena bagi manusia siapapun dia pasti menginginkan perasaan ingin dicintai, diterima, dihormati.
Injil yang kita dengar bersama pada hari ini mengisahkan tentang Yesus yang “mudik” ke Nazareth. Namun ternyata reaksi orang-orang Nazaret terhadap Yesus justru berupa sebuah penolakan. Yesus ditolak oleh orang-orang sekampung halaman-Nya. Bukankah sebaliknya mereka harus berbangga karena seorang nabi dan Mesias justru dibesarkan di kota mereka, mereka itu orang-orang sekampung halaman-Nya yang mestinya mengenal dengan baik Yesus selama ini. Mereka mestinya menjadi orang-orang yang akan mendukung karya Yesus. Bukankah biasanya warga desa atau kota tempat seorang tokoh berasal akan mendukung habis-habisan apabila tokoh tersebut sedang ikut berlomba atau bertanding di suatu turnamen atau apa? Ingat saja contoh bagaimana warga kota mendukung putra atau putrinya yang sedang ikut Indonesian idol. Pada kasus di Nazaret lain. Ternyata orang-orang Nazaret menolak Yesus. Bagaimana pula perasaan Ibu Maria ketika menyaksikan Yesus yang diusir dan bahkan mau dibunuh itu? Kiranya juga tidak sedikit orang yang menyimpan kekaguman kepada Yesus. Namun kini mereka harus menyaksikan sendiri hal yang amat menyakitkan dari seorang warga dari kampung Nazaret: diusir dan bahkan diancam untuk dibunuh! Bisa dibayangkan betapa Bunda Maria, saudara-saudari Yesus, dan para pengagum-Nya tentu sedih bukan main.? Yesus seakan-akan gagal dalam pewartaan di kampung halaman-Nya. Yesus heran dengan sikap penolakan dan ketidakpercayaan orang-orang sekampungnya. Pertanyaannya: mengapa Yesus ditolak oleh orang-orang sekampung halaman-Nya, Nazaret? Penginjil markus memberikan kepada kita sebuah alasan yaitu karena Yesus hanya seorang anak tukang kayu yang sederhana, anak dari seorang wanita yang sederhana, bagaimana mungkin memperoleh kebijaksanaan yang luar biasa itu?
Maksud dari penginjil Markus menampilkan alasan ini karena mau menyampaikan pesan kepada kita, betapa Yesus menghayati suatu syarat yang paling pokok menjalankan suatu karya pelayanan yaitu kemerdekaan batin atau kebebasan hati. Dalam diri Yesus terpancarlah suatu kemerdekaan batin yang luar biasa. Ia bisa bicara, mengajar dan berbuat dengan bebas sesuai dengan kebenaran yang harus Ia wartakan, yakni Kerajaan Allah. Yesus tidak ambil pusing dengan reaksi dan tanggapan orang. Yesus tidak mencari popularitas atau penggemar. Yesus tidak ambil peduli terhadap pencemaran nama baik-Nya. Ia tidak peduli dengan reaksi orang: menjadi suka atau mengagumi atau sebaliknya marah atau bahkan membenci-Nya. Pada saat berkarya itu, Yesus tidak memilih apa yang menguntungkan posisi-Nya atau apa yang memberikan keuntungan macam-macam hal untuk diri-Nya, entah keuntungan sosial, ekonomis, politis, ataupun psikologis. Yesus hadir dan tampil sesuai dengan tugas yang diberikan Bapa-Nya. Ia berkarya siang dan malam untuk mewartakan dan menghadirkan Kerajaan Allah di tengah bangsa-Nya. Di situ Yesus bersikap merdeka atau lepas bebas. Dia lepas bebas dan tidak ambil pusing dengan soal kesuksesan, ketenaran, nama baik, harga diri, kehormatan, dan tetek bengek lain yang biasa dicari orang dunia ini.
Pertanyaan refleksi untuk saya anda dan saudara sekalian? sudah berapa kali kita menolak Yesus dalam hidup dan diri kita, dalam pengalaman2 hidup kita? Banyak pengalaman menunjukkan bahwa Yesus banyak kali ditolak atau dengan kata yang agak lebih kasar, Yesus banyak kali digadaikan dan dijual hanya karena cinta, hanya karena jabatan, hanya karena uang dan alasan-alasan lainnya. Bisa kita bayangkan bagaimana perasaan Yesus ketika kita memperlakukannya demikian? tentu Yesus sedih dan kecewa. Dalam relasi horisontal antara kita dan sesama kita, mungkin banyak kali kita pun menolak Yesus yang hadir dalam diri sesama kita alasannya karena kita lebih cenderung untuk menilai seseorang dari tampilan fisik, apa yang dikenakannya, apa yang dipakainya, dan dari keluarga mana orang itu berasal, latar belakang pendidikan dan lain sebagainya. Ingat bahwa Yesus ditolak di Nazareth hanya karena orang tuanya adalah orang yang sederhana, hanyalah seorang anak tukang kayu dan ibu rumah tangga sederhana.
Melalui kisah injil yang kita renungkan bersama ini, mari kita membuka pintu hati kita lebar-lebar agar Yesus berdiam selamanya di hati dan hidup kita. Kita memperlakukan sesama kita dengan sewajarnya dengan keyakinan bahwa ada wajah Tuhan yang tersamar dalam diri sesama kita. Dengan semuanya itu bolehlah kita berseru, Yesus aku mencintaiMu dengan sungguh, amin.



Jumat, 03 Juli 2015

BACAAN INJIL DAN RENUNGAN: MATIUS 9:14-17; SABTU, 04 JULI 2015

Mat 9:14
Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?"
Mat 9:15
Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.
Mat 9:16
Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya.
Mat 9:17
Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itupun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya."

Renungan:
Bagi kita orang Kristiani, puasa artinya adalah tanda pertobatan, tanda penyangkalan diri, dan tanda kita mempersatukan sedikit pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib sebagai silih dosa kita dan demi mendoakan keselamatan dunia. Jadi puasa dan pantang bagi kita tak pernah terlepas dari doa. Dengan demikian, pantang dan puasa bagi kita orang Katolik merupakan latihan rohani yang mendekatkan diri pada Tuhan dan sesama, dan bukan untuk hal lain. Dengan mendekatkan dan menyatukan diri dengan Tuhan, maka kehendak-Nya menjadi kehendak kita. Dan karena kehendak Tuhan yang terutama adalah keselamatan dunia, maka melalui puasa dan pantang, kita diundang Tuhan untuk mengambil bagian dalam karya penyelamatan dunia,dengan cara yang paling sederhana, yaitu berdoa dan menyatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib.

Bacaan injil pada hari ini berbicara tentang puasa. Ada dua hal yang ditonjolkan oleh penginjil Matius bagi kita yaitu kain yang baru dan kantong kulit yang baru. Kantong kulit yang baru diperlukan karena kantong itu bebas dari semua bekas unsur fermentasi, mis. sel-sel ragi yang sudah matang. Apabila sari buah anggur yang baru dimasukkan ke dalam kantong kulit yang lama, maka sari buah itu akan lebih cepat meragi karena sudah ada sel-sel ragi di dalam kantong kulit yang lama itu. Fermentasi yang terjadi dengan demikian akan merusak baik sari anggur yang baru maupun kantong kulitnya (yang akan pecah karena tekanan proses peragian). Untuk menjaga agar sari buah anggur "tetap manis", maka sari buah tersebut harus dimasukkan ke dalam suatu wadah baru yang tertutup rapat-rapat. Demikian pun kain yang baru, akan menjadi cocok dan indah bila tidak ditambalkan ke kain yang usang.

Puasa hendaknya menghasilkan buah-buah yang manis yaitu pembaharuan diri melalui pertobatan, kehidupan doa yang tulus, berbagi dengan sesama. Bila ini belum dilakukan maka itu ibaratnya anggur yang baru disimpan dalam kantong yang lama, akan merusak kantong itu sendiri, akan merusak kehidupan itu sendiri.

Kamis, 02 Juli 2015

BACAAN INJIL DAN RENUNGAN: YOHANES 20:24-29; PESTA SANTO THOMAS RASUL, 3 JULI 2015

Yoh 20:24
Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ.
Yoh 20:25
Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."
Yoh 20:26
Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"
Yoh 20:27
Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah."
Yoh 20:28
Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!"
Yoh 20:29
Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."



RENUNGAN

Ada sebagian orang yang berpendapat “seing is believing”. Mereka perlu melihat bukti dahulu barulah mereka bisa percaya. Bukti yang bisa diinderai itulah yang membuat orang percaya. Dalam kehidupan beriman, ada sebagian orang yang selalu minta bukti. Kalau tidak melihat bukti mereka tidak mau percaya.

Thomas yang pestanya kita rayakan hari ini boleh dibilang memiliki tipe seperti itu. Ia tidak hadir pada saat Tuhan Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya. Ketika mereka memberitahukan kepadanya bahwa mereka telah melihat Tuhan, Bukannya percaya dan bersukacita, tetapi dia justru mengatakan, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.”

Di sini kita melihat sekilas watak Tomas yang boleh dibilang peragu. Ketika Yesus berniat untuk mengunjungi Lazarus setelah menerima kabar perihal sakit yang dideritanya, Thomas malah berkata kepada para murid lainnya demikian: “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia” (Yoh 11: 16). Ketika cintanya kepada Tuhan mulai mendalam, Thomas toh masih juga memperlihatkan sikap ketidak-beraniannya untuk menemani Yesus di saat-saat penderitaan dan penyaliban-Nya. Setelah kematian Yesus, Thomas lagi-lagi membuat “kesalahan” dengan memisahkan diri dari kelompok para murid. Ia lebih memilih untuk menyendiri di saat-saat sulit dan penuh penderitaan daripada menjadi bagian dari sebuah persekutuan para murid. Rasul Thomas juga yang meragukan kesaksian wanita yang telah melihat Tuhan yang bangkit, juga kesaksian para murid Yesus lainnya tentang kebangkitan Tuhan. Apakah Thomas hanya sebatas seorang murid Tuhan yang kurang percaya, seorang yang punya karakter dasar pesismis? Tentu , tidak!, jawabannya! Mengapa?

Ketika akhirnya, Rasul Thomas memiliki keberanian untuk bergabung kembali dengan para murid lainnya, Yesus membuat diri-Nya dikenali olehnya dan menenteramkan hatinya bahwa inilah Dia, Yesus yang sungguh-sungguh telah mengatasi kematian dan bangkit kembali. Serentak dengan itu, Santu Thomas tidak hanya mengenali Tuhan dan Gurunya, tetapi ia sekaligus percaya dengan sepenuh hatinya dan bersaksi bahwa Yesus sungguh Tuhan dan sungguh-sungguh Allah. Suatu pengakuan Tomas yang jujur, dan ini meneguhkan Tomas sampai akhir riwayat hidupnya. Karena kemudian ia menjadi saksi kebangkitan Tuhan yang setia.

Pada Pesta Santo Thomas Rasul ini, marilah kita menyadari bahwa kasih Allah dan pengampunanNya begitu besar untuk kita. Kemaharahiman Allah mampu untuk mempertobatkan Rasul Thomas dari ketidakpercayaannya. Pengalaman yang dialami oleh Tomas sekaligus meneguhkan dia menjadi pelayan Tuhan yang sejati. Pertanyaan bagi kita semua, apakah kita memerlukan pengalaman-pengalaman yang dahsyat atau mukjizat2 yang besar untuk membuat kita lebih percaya?? Berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya, itulah tanda iman yang sejati. Mata fisik membantu kita untuk melihat segala yang diciptakan Tuhan dan memuliakan nama-Nya. Mata iman membantu kita untuk dapat memahami semua misteri Allah yang tak dilihat oleh mata fisik. Mukjizat Tuhan sering terjadi justru kalau kita menggunakan mata iman. Mari kita selalu mempertajam mata iman kita, amin



Rabu, 01 Juli 2015

Bacaan Injil dan Renungan: Matius 9:1-8. Kamis, 2 Juli 2015

Mat 9:1 Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri.
Mat 9:2Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni."
Mat 9:3Maka berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya: "Ia menghujat Allah."
Mat 9:4Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: "Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu?
Mat 9:5Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah?
Mat 9:6Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" ?lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu?:"Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!"
Mat 9:7Dan orang itupun bangun lalu pulang.
Mat 9:8Maka orang banyak yang melihat hal itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa sedemikian itu kepada manusia.


RENUNGAN
Dalam membangun relasi dengan sesama, salah satu batu sandungan yang berpotensi menimbulkan keretakan dalam relasi itu adalah berpikir negatif tentang orang lain. Kadang pula sebagian orang beranggapan bahwa sumber dari penyakit untuk diri sendiri adalah dari pikiran yang negatif. Berpikir negatif itu biasanya muncul dari perasaan iri, dengki, benci dan tidak puas dengan apa yang dimiliki. Pikiran negatif itu biasanya mengakibatkan : ketakutan, kekhawatiran, pesimisme, ketidakyakinan, keresahan, ketidakpercayadirian, dll. Berpikir negatif terhadap sesuatu akan menguras energi dalam diri dan malah menghasilkan ketidakberhasilan dalam suatu pencapaian dan merusak hubungan atau relasi dengan sesama.
Injil yang direnungkan pada hari ini menampilkan sisi lain dari beberapa orang ahli taurat. Mereka cenderung berpikir negatif tentang Yesus. Ketika orang lumpuh disembuhkan, para ahli taurat ini malah memiliki keyakinan bahwa Yesus menghujat Allah. Ketika Yesus melakukan kebaikan dan belas kasih, itu dilihat oleh para ahli taurat sebagai upaya untuk merongrong kekuasaan Allah. Apakah kebaikan itu bertentangan dengan Allah yang merupakan sumber kebaikan itu sendiri? Disinilah letak kecenderungan berpikir negatif yang dimiliki para ahli taurat. Menurut Yesus cara berpikir demikian termasuk dalam kategori kejahatan. "Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Para ahli taurat lebih mudah untuk menemukan apa yang menurut mereka salah ketimbang menemukan hal-hal yang baik. Hal ini terjadi karena pikiran negatif itu sendiri.

Melalui Kisah Injil ini, Yesus mengajak kita untuk senantiasa melihat sisi positif dalam setiap peristiwa hidup, dalam setiap relasi, dalam setiap perjumpaan dalam hari-hari hidup kita. Untuk mampu melihat sisi positif itu maka kita perlu membiasakan diri untuk berpikir positif. Pikiran yang sehat tentu akan sangat berguna bagi diri sendiri dan bagi orang lain. Dengan berpikir postif, kita telah menjadi saluran rahmat dan berkat bagi sesama kita.