Selasa, 18 Agustus 2015

Bacaan Injil dan Renungan: Matius 20:7-16, Rabu, 19 Agustus 2015


Mat 20:1
"Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya.
Mat 20:2
Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya.
Mat 20:3
Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar.
Mat 20:4
Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan merekapun pergi.
Mat 20:5
Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi.
Mat 20:6
Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?
Mat 20:7
Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.
Mat 20:8
Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu.
Mat 20:9
Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar.
Mat 20:10
Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi merekapun menerima masing-masing satu dinar juga.
Mat 20:11
Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu,
Mat 20:12
katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.
Mat 20:13
Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?
Mat 20:14
Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu.
Mat 20:15
Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?
Mat 20:16
Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir."

IRI HATIKAH ENGKAU, KARENA AKU MURAH HATI?

Injil yang kita renungkan bersama pada kesempatan ini berbicara tentang para pekerja yang diundang pemilik kebun anggur untuk bekerja di kebun anggurnya. Kalau kita berpikir secara manusiawi dan kita kaitkan dengan aturan tentang ketenagakerjaan maka wajarlah bila para pekerja protes. Tapi bukan maksud ini perumpamaan ini mau disampaikan buat kita. Lantas apa yang mau digarisbawahi dalam perumpamaan ini?
Allah adalah Tuan rumah agung yang memiliki kita dan yang kita layani. Sebagai tuan rumah, Dia mempunyai pekerjaan yang harus dilakukan dan para pelayan yang harus melaksanakannya. Sang Pemilik dan Penguasa atas mereka. Allah mengupah para pekerja, bukan karena Ia membutuhkan mereka atau tenaga mereka (sebab jikalau kita benar, apakah yang kita berikan kepada Dia?), melainkan seperti tuan rumah yang murah hati Ia mempekerjakan orang karena ingin berbuat baik kepada mereka. Ia hendak menyelamatkan mereka dari kemalasan dan kemiskinan. Oleh karena itu Ia mengupah mereka untuk pekerjaan yang sebenarnya mereka lakukan bagi diri mereka sendiri. Yang digarisbawahi dalam perumpamaan ini adalah Allah yang murah hati dan yang Maha Baik. Sangat sering kita berpikir bahwa kita menerima terlampau sedikit anugerah Allah, sedangkan orang lain menerima terlampau banyak. Juga bahwa kita melakukan terlampau banyak pekerjaan Allah, dan orang lain terlampau sedikit. Besar kemungkinan kita semua menilai rendah orang lain dan menilai tinggi diri sendiri. Boleh jadi, di sini Kristus memperingatkan Petrus agar tidak terlampau menyombongkan diri, seperti yang tampaknya ia lakukan ketika berkata bahwa ia telah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti Kristus, seakan-akan karena ia dan murid-murid lain telah menanggung beban pekerjaan di bawah terik matahari, maka sudah seharusnya sorga menjadi milik mereka sendiri. Sungguh sulit bagi orang-orang yang bekerja atau menderita bagi Allah lebih banyak daripada orang lain, untuk tidak meninggikan diri dan mengharapkan pujian atas jasa mereka. Rasul Paulus pun menjaga diri terhadap sikap ini, yang meskipun tidak kalah terhadap rasul-rasul yang luar biasa, menganggap dirinya tidak berarti sedikit pun, dan paling hina di antara segala orang kudus.
Ungkapan sakit hati itu dalam perumpamaan tadi dijelaskan dengan tiga hal ini.
Yang pertama, bahwa orang yang bersungut-sungut itu sama sekali tidak punya alasan untuk mengeluh bahwa ia diperlakukan tidak benar. Di sini tuan itu menegaskan sikap adilnya, Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Tuan itu memanggilnya saudara, sebab saat bermusyawarah dengan orang lain, kita harus menggunakan kata-kata lembut, namun tegas, jika bawahan kita suka mengeluh dan menantang. Bagaimanapun, janganlah kita berkata-kata dengan kasar kepada mereka, tetapi dengan tenang.
Yang kedua, tidak perlu diragukan lagi bahwa Allah tidak mungkin keliru. Ini adalah hak istimewa Raja di atas segala raja. Tidak adilkah Allah? Rasul Paulus terkejut membayangkan pemikiran seperti ini. Sekali-kali tidak!. Perkataan Paulus sudah sepantasnya membungkam keluhan kita, bahwa apa pun yang Allah perbuat terhadap kita atau apa pun yang Dia tahan untuk tidak diberikan kepada kita, tidak ada suatu kesalahan pun yang Dia lakukan.
Yang ketiga, jika Allah mencurahkan anugerah kepada orang lain dan bukan kepada kita, ini adalah kebaikan yang diberikan kepada mereka, tetapi bukan ketidakadilan terhadap kita. Kelimpahan kepada orang lain itu bukan berarti ketidakadilan bagi kita. Jadi, janganlah kita mencari-cari kesalahan dalam hal ini. Karena dengan cuma-cuma anugerah diberikan kepada orang yang mempunyai, jadi janganlah ada orang menyombongkan diri. Dan dengan cuma-cuma pula anugerah ditahan dari orang yang tidak mempunyai, jadi janganlah ada orang bersungut-sungut.
Kita perlu membiarkan diri untuk “diperlakukan” sesuka hati Allah, seperti alat tulis biarlah Allah bebas menggerakkan kita. Pasti yang akan dihasilkan adalah sebuah lukisan yang indah. Rencana Tuhan selalu indah pada waktunya.

Minggu, 16 Agustus 2015

Bacaan Injil dan Renungan: Matius 22:15-21, HR Kemerdekaan RI, Senin 17 Agustus 2015



Mat 22:15 Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan.

Mat 22:16 Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka.

Mat 22:17 Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?"

Mat 22:18 Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?

Mat 22:19 Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya.

Mat 22:20 Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?"

Mat 22:21 Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."

MERDEKA DALAM HIDUP DAN DALAM NURANI
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA!!!!!
Kita pantas bersyukur atas anugerah kemerdekaan yang diperoleh Bangsa kita. Sebuah anugerah yang istimewa yang didapatkan karena kasih Tuhan dan pengorbanan yang begitu besar dari anak bangsa. Memang benar, tiada kasih tanpa pengorbanan.  Dalam  mensykuri  kemerdekaan, saya mengajak kita sekalian untuk merefleksikan  kemerdekaan ini dalam terang Injil Matius.
Dalam Injil  hari ini, dikisahkan bagaimana orang – orang farisi datang pada Yesus dan ingin menjerat Yesus dengan pertanyaan jebakan. Pertanyaan yang mereka ajukan adalah, "Haruskah kami membayar pajak kepada Kaisar, atau tidak?" Seakan-akan mereka sangat ingin mengetahui kewajiban mereka. Mereka berlaku seolah-olah sebagai sebuah bangsa yang sungguh-sungguh meninggikan kebenaran, mereka mau bertanya kepada Allah tentang segala peraturan yang adil, padahal yang sebenarnya mereka hanya ingin tahu kepada pihak mana Yesus berpihak, sehingga mereka akan memakai kesempatan itu untuk menuduh Dia. Memang benar, tidak ada cara lain lagi yang lebih baik kalau orang mau menjerat hamba-hamba Tuhan selain dari melibatkan mereka dengan macam-macam hal yang penuh pertentangan mengenai hak-hak warga negara, yaitu bagaimana orang menetapkan garis batas antara pemerintah dan warga negaranya. Hal ini memang perlu, tetapi sebenarnya tidaklah sesuai bagi orang-orang Farisi itu untuk melakukan tugas ini. Tetapi tampaknya mereka menunjuk Kristus untuk memutuskan masalah ini; dan memang Ia sangat cocok untuk memutuskannya, karena oleh Dialah para raja memerintah, dan para pembesar menetapkan keadilan. Pertanyaan mereka itu adil, "Haruskah kami membayar atau tidak?" Tampaknya mereka sudah pasrah untuk mengikuti keputusan-Nya, "Jika Engkau mengatakan kami harus membayar pajak, kami akan melakukannya, sekalipun kami harus menjadi pengemis karenanya. Jika Engkau mengatakan kami tidak harus membayar pajak, kami tidak akan membayarnya, sekalipun kami akan disebut pengkhianat karenanya." Banyak orang kelihatan sangat ingin untuk melakukannya; seperti yang dilakukan orang-orang sombong ini .
Kristus menjawab pertanyaan tersebut dan mengelakkan diri dari perangkap itu dengan menyinggung kesepakatan nasional yang telah mereka buat dengan pemerintah Romawi, supaya dengan demikian mereka tidak bisa berbantah lagi mengenai masalah ini. Walaupundengan mulut mereka menunjukkan kasih mereka kepada-Nya, Ia sungguh tahu kemunafikan mereka dan kebencian yang ada dalam hati mereka terhadap Dia. Kemunafikan itu, sekalipun dilakukan dengan sangat licin, tetap saja tidak dapat disembunyikan dari Tuhan Yesus. Ia dapat melihat retakan tembikar walaupun diselubungi dengan lapisan perak. Ia tahu mereka bermaksud untuk menjerat Dia, dan karena itu Ia memperumit masalahnya untuk menjerat mereka dengan perkataan mereka itu sendiri, untuk memaksa mereka melakukan apa yang tidak ingin mereka lakukan, yaitu membayar pajak secara jujur dan dengan tidak mengeluh-ngeluh. Dengan cara ini pula Yesus melindungi diri-Nya dari maksud jahat mereka untuk menuduh Dia. Ia membuat mereka menyadari bahwa uang yang sekarang digunakan dalam bangsa mereka adalah uang Romawi, mempunyai gambar Kaisar pada salah satu sisinya dan tulisan Kaisar pada sisi yang lain; dan oleh karena itu:
Kaisar dapat menggunakan uang tersebut bagi kepentingan rakyat, karena ia mengawasi dan mengatur negara itu, tempat ia memiliki tanggung jawab; Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar. Uang itu mulai beredar dari Kaisar yang menjadi sumbernya, dan karena itu harus kembali lagi kepadanya. Selama uang itu menjadi miliknya, selama itu pula uang itu harus dikembalikan kepadanya; dan sejauh mana itu menjadi miliknya dan dikuasai olehnya, ditentukan menurut peraturan dan perundang-undangan pemerintah, yang juga mencantumkan wewenang penguasa atau kaisar dan hak warga negara.
Kaisar tidak bisa menguasai hati nurani mereka atau berusaha melakukannya; ia bersedia untuk tidak mengubah agama mereka. "Karena itu, bayarlah pajakmu, tanpa mengeluh atau berbantah, tetapi di samping itu, janganlah kamu lupa untuk memberikan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada-Nya." Mungkin Yesus sedang mengacu kepada perumpamaan yang baru saja Ia ceritakan, yang di dalamnya Ia mengecam mereka karena tidak mengembalikan hasil buah kepada Tuan pemilik kebun anggur . Tampaknya, banyak orang yang tidak mau memberikan kepada manusia apa yang wajib mereka berikannya, mereka ini juga tidak akan peduli untuk memberikan kemuliaan kepada Allah karena nama-Nya. Hati dan kasih kita kepada-Nya merupakan pemberian wajib kita kepada Allah, sama seperti upah sewa kebun kepada Sang Pemilik kebun anggur itu atau pajak kepada kaisar atau pemerintah.
Kemerdekaan yang sesungguhnya adalah  ketika hati bebas tanpa tertekan. Di situlah damai yang sesungguhnya ada dan hadir!


Sabtu, 15 Agustus 2015

Bacaan Injil Dan Renungan: Lukas 1:39-56. Hari Raya Maria Diangkat Ke Surga, Minggu 16 Agustus 2015

Luk 1:39
Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda.
Luk 1:40
Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet.
Luk 1:41
Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus,
Luk 1:42
lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.
Luk 1:43
Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?
Luk 1:44
Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.
Luk 1:45
Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana."
Luk 1:46
Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan,
Luk 1:47
dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,
Luk 1:48
sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,
Luk 1:49
karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.
Luk 1:50
Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.
Luk 1:51
Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;
Luk 1:52
Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;
Luk 1:53
Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;
Luk 1:54
Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya,
Luk 1:55
seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya."
Luk 1:56
Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.



SUB TUTELA MATRIS (DI BAWAH NAUNGAN SANG BUNDA)


Hari ini kita merayakan Hari Raya Maria Diangkat Ke Surga atau Maria Assumpta. Bunda Maria, Bunda kita sekalian adalah teladan Iman dan teladan kehidupan kita umat Kristiani, pada kesempatan ini saya mengajak kita sekalian untuk bersama merefleksikan tentang Teladan Bunda Maria yang berbagi sukacita iman dengan saudari sepupunya Elizabeth. Bunda Maria tidak menyimpan suka cita iman yang Ia miliki untuk dirinya sendiri tetapi ia berbagi suka cita iman itu bersama orang lain.
Dalam Kisah Injil tadi kita menyimak percakapan antara dua ibu yang berbahagia, Dua ibu yang penuh dengan Roh Kudus, Elisabet dan Maria. Malaikat membuka kesempatan terjadinya perjumpaan di antara kedua orang ini dengan memberi tahu Maria tentang berkat yang dilimpahkan kepada sanaknya, Elisabet.

Maria melakukan kunjungan kepada Elisabet dengan melakukan sebuah perjalanan yang jauh yaitu ke daerah pegunungan. Maria yang telah mengandung Mesias tidak merasa bahwa dirinya lebih tinggi dari Elisabeth maka ia yang harusnya dikunjungi oleh Elisabeth. Maria juga meninggalkan semua urusannya guna mengurus hal yang lebih besar ini: berbagi sukacita iman. Di sini kita belajar untuk bersikap rendah hati seperti Maria, tidak memandang status yang kita miliki, berani untuk menarik diri sejenak dari kesibukan-kesibukan kita untuk bergerak keluar dan mengunjungi orang yang membutuhkannya. Bukan sekedar mengunjungi tetapi mengunjungi dengan membawa sukacita iman untuk orang yang dikunjungi.

Pertemuan antara Maria dan Elisabet sungguh-sungguh diliputi oleh suasana yang penuh dengan kebahagiaan Iman. Maria memberi salam kepada Elisabet dan berkata bahwa ia datang untuk mengunjunginya, untuk mengetahui keadaannya, dan bersuka bersamanya di dalam sukacitanya. dan demi menegaskan iman mereka berdua. Kemudian terjadilah sesuatu yang luar biasa. Maria mengetahui bahwa Elisabet sedang mengandung seorang anak. Kita belajar dari pertemuan yang membawa kebahagiaan yang mendalam ini. Yang pertama, mereka bertemu untuk berbagi kebahagiaan iman dan bukan yang lainnya. Biasanya orang berkata, di mana dua tiga orang berkumpul di situ Tuhan hadir. Tetapi ada juga yang berkata, di mana dua tiga ibu berkumpul di situ pasti ada orang yang dibicarakan atau digosipkan. Yang jenis ini namanya membawa luka untuk orang lain dan bukan membawa suka bagi orang lain. Yang kedua, pertemuan ini membawa kebahagiaan karena Maria membawa Yesus dalam rahimnya dan ini membuat Elisabeth dan Yohanes begitu bersukacita. Apa yang kita bawa untuk orang lain? membawa wajah Tuhan atau membawa wajah pribadi? Dalam kisah injil tadi dikatakan bahwa Yohanes melonjak kegirangan dalam rahim ibunya, seolah-olah memberi isyarat kepada ibunya, bahwa ia sekarang berjumpa dengan Dia, berjumpa dengan orang yang karenanya ia diutus sebagai pendahulu. Juga karena pengaruh kuat yang ditujukan untuk sang ibu. Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, atau Roh nubuat, dan oleh Roh inilah, dan juga dengan ilham yang diberikan Roh, ia diberi pemahaman bahwa Sang Mesias hadir di situ. Gerakan bayi yang tidak seperti biasanya di dalam rahimnya ini merupakan tanda adanya emosi yang luar biasa di dalam jiwa Elisabet karena gerakan ilahi. Ucapan selamat datang yang disampaikan oleh Elisabet melalui Roh Nubuat kepada Maria, ibu Tuhan kita. Ucapan ini disampaikan bukan seperti kepada seorang teman biasa yang sedang melakukan kunjungan biasa, tetapi kepada orang yang akan melahirkan Mesias.

Elisabet mengucapkan selamat kepada Maria atas kehormatan yang diterimanya, meskipun ia belum pernah mengetahui hal itu sebelum ini. Ia mengucapkannya dengan penuh keyakinan dan kegembiraan. Ia berseru dengan suara nyaring, karena ia sedang hanyut dalam sukacita yang meluap-luap, dan tidak peduli kalau orang sampai mendengarnya. Ia berseru, "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan," kata-kata sama seperti yang diucapkan oleh malaikat ; karena memang demikianlah kehendak Allah mengenai menghormati Sang Anak, bahwa itu harus terjadi di bumi seperti di dalam sorga. Namun, Elisabet menambahkan sebuah alasan lagi, oleh karena itu, "Diberkatilah engkau sebab diberkatilah buah rahimmu." Jadi Maria layak memperoleh kehormatan istimewa ini. Elisabet sudah jadi istri seorang imam selama bertahun-tahun, namun ia tidak merasa iri bahwa Maria, saudara sepupunya, yang jauh lebih muda daripadanya, yang dalam segala hal lebih rendah daripadanya, akan mendapatkan kehormatan untuk mengandung dalam keadaan masih perawan, dan menjadi ibu Sang Mesias. Meskipun kehormatan yang diperolehnya lebih sedikit, namun Elisabet bersukacita di dalamnya; ia merasa puas, sama seperti anaknya kelak, bahwa Maria yang datang kemudian daripadanya lebih tinggi daripadanya.

Di bawah naungan Sang Bunda, Yesus dibawa dan diperkenalkan kepada Elisabeth dan Yohanes Pembaptis. Di bawah naungan Sang Bunda pula, hendaknya kita pun membawa Yesus dan memperkenalkannya kepada setiap orang yang kita jumpai. Di bawah naungan Sang Bunda pula, kita akan mendapatkan rahmat yang mengalir dan menggenangi hidup kita. Mari kita wartakan Yesus karena kita selalu berada dalam naungan Sang Bunda. Amin



Jumat, 14 Agustus 2015

Bacaan Injil Dan Renungan: Matius 19:13-15; Sabtu, 15 Agustus 2015

Mat 19:13
Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu.
Mat 19:14
Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga."
Mat 19:15
Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ.

BIARKANLAH ANAK-ANAK DATANG PADA-KU
Ketika membaca kisah Injil yang akan kita renungkan bersama ini, saya teringat akan pengalaman saat masih Sekolah Dasar dulu dan ketika akan menerima Komuni Pertama. Kami berbaris di halaman Gereja dan kemudian menyanyikan lagu Biarkanlah anak-anak datang pada-Ku sambil berarak masuk ke dalam Gereja dan disambut Imam pemimpin perayaan. Saat itu yang terasa dalam hati adalah suka cita dan kerinduan yang begitu mendalam karena sebentar lagi akan menerima Yesus dalam hati. Kira-kira seperti ini syair lagunya, pada suatu hari anak-anak datang pada Yesus, para murid mengusirnya tetapi Yesus berkata, biarkanlah anak-anak, biarkanlah anak-anak datang pada-Ku datang padamu, mereka sahabat-Ku.  Selalu ada perasaan haru yang menyelimuti diri, setiap kali menyanyikan lagu ini. Perasaan yang sama selalu ada terutama ketika sudah menjadi seorang Imam dan hendak memberi komuni pertama untuk anak-anak. Saat mereka menyanyikan lagu ini, terungkap di sana kerinduan hati anak-anak untuk datang dan menyambut Yesus. Mereka begitu bergembira saat melangkahkan kaki memasuki Gereja. Saya membayangkan Yesus yang sementara tersenyum dan membuka kedua tangan-Nya dan menyambut kedatangan anak-anak.  Atau  juga dalam perayaan ekaristi dan anak-anak berbaris untuk menerima berkat dari Imam. Tetapi kadang saya merasa miris ketika merayakan ekaristi dan saat pemberkatan anak-anak, yang maju untuk mengantar anak-anak adalah baby sister atau pengasuh anak sedangkan orang tuanya cuma duduk di tempat duduk.
Kehadiran seorang anak dalam sebuah keluarga tentunya merupakan sebuah berkat yang tak terhingga, sebuah hadiah istimewa bagi pasangan suami istri. Maka berkat tersebut, hadiah istimewa tersebut perlu dijaga, dididik dan dihantar untuk mengenal dan mencintai Sang Pemberi berkat atau hadiah istimewa tersebut.  Itulah bentuk syukur, bentuk iman yang diperlihatkan oleh orang tua dan juga oleh mereka yang membawa anak-anak kecil itu kepada Yesus seperti yang kita baca dalam Injil hari ini.
Mereka menunjukkan rasa hormat terhadap Kristus, dan penghargaan mereka terhadap karunia dan berkat-Nya. Mereka yang mengagungkan Kristus dengan datang kepada-Nya secara pribadi hendaknya juga mengagungkan-Nya lebih jauh lagi dengan membawa serta semua yang mereka miliki atau yang berada di bawah pemeliharaan mereka ke hadapan-Nya. Dengan cara ini, kita menghormati kekayaan anugerah-Nya yang tidak terduga itu, dan kepenuhan-Nya yang berlimpah dan tidak pernah gagal. Kita tidak dapat menghormati Kristus dengan lebih baik, kecuali dengan mengambil manfaat dari-Nya.
Mereka melakukan hal yang baik kepada anak-anak mereka, tanpa meragukan bahwa anak-anak tersebut akan lebih berhasil, baik dalam dunia ini maupun dalam dunia yang akan datang, melalui berkat dan doa dari Tuhan Yesus. Mereka memandang Dia sebagai seorang pribadi yang luar biasa, sebagai seorang nabi, jika bukan sebagai seorang imam dan raja, dan berkat dari orang yang demikian memang sangat dihargai dan dicari-cari. Orang-orang lain biasanya membawa anak-anak mereka kepada Kristus untuk disembuhkan ketika mereka sakit, namun dalam hal ini anak-anak ini tidak dalam keadaan sakit apa pun. Orang-orang yang membawa mereka hanya ingin agar mereka mendapat berkat. Perhatikanlah, adalah hal yang baik jika kita datang secara pribadi kepada Kristus dan membawa serta anak-anak kita kepada-Nya, sebelum kita dihalau dengan terpaksa (seperti yang kita biasa katakan) untuk menemui-Nya oleh karena malapetaka. Kita harus mengunjungi-Nya bukan saja ketika kita sedang susah, namun hendaknya kita datang ke hadapan-Nya karena merasa bergantung pada-Nya, dan untuk mengharapkan kebaikan-kebaikan dari-Nya. Hal ini sangat menyenangkan hati-Nya.
Mereka ingin supaya Ia bersedia meletakkan tangan-Nya ke atas anak-anak tersebut dan mendoakan mereka.  Anak-anak kecil dapat dibawa kepada Kristus karena mereka membutuhkan dan mampu menerima berkat dari-Nya, dan mereka juga berkepentingan dalam pengantaraan yang dilakukan-Nya. Inilah sebabnya mengapa mereka seharusnya dibawa ke hadapan-Nya. Kita tidak dapat melakukan apa yang lebih baik bagi anak-anak kita selain daripada menyerahkan mereka ke dalam tangan Tuhan Yesus untuk ditempa dan didoakan oleh-Nya. Tidak ada hal lain yang dapat kita lakukan selain daripada memohonkan berkat bagi mereka, karena hanya Kristus sendiri yang mampu mengaruniakannya.
Kesalahan murid-murid-Nya yang menghardik mereka. Mereka mencibir tindakan orang-orang tersebut sebagai hal yang sia-sia dan tidak berdasar, dan menegur mereka sebagai tidak sopan dan menyusahkan saja. Mereka beranggapan bahwa Guru mereka terlalu agung untuk memperhatikan anak-anak kecil, kecuali ada sesuatu yang membuat mereka sakit. Mungkin juga mereka berpikir bahwa Ia sudah mencurahkan tenaga-Nya untuk pekerjaan-pekerjaan-Nya yang lain, dan tidak ingin perhatian-Nya terpecah oleh karena hal ini. Atau, mereka berpikir bahwa jika tindakan seperti ini diberi hati, maka seluruh penduduk negeri akan membawa anak-anak mereka kepada-Nya, dan ini tidak akan ada habis-habisnya.
InilahKebaikan hati Yesus, Tuhan kita.  Ia menghardik murid-murid-Nya Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku. Kemudian Ia menunjukkan letak kesalahan yang mereka perbuat, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga. Yesus menganggap jahat orang-orang yang menghalang-halangi mereka dan mengusir mereka yang telah diterima-Nya itu. Orang-orang yang bertindak demikian berarti melemparkan anak-anak itu keluar dari pewarisan yang akan dikaruniakan Tuhan.  Ia menerima anak-anak itu, dan bertindak sesuai dengan apa yang dikehendaki para orangtua dari-Nya. Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka, yang artinya, Ia memberkati mereka. Orang percaya yang paling kuat sekalipun tidak hidup dengan mengaku bahwa dia telah mengerti Kristus dengan sempurna seperti Kristus telah memahaminya dengan sempurna ia juga tidak begitu mengenal Allah sebagaimana Allah begitu mengenal dia. Hal inilah yang paling tidak mampu dilakukan oleh seorang anak kecil. Walaupun mereka tidak mampu mengulurkan tangan mereka untuk menggapai Kristus, Ia dapat meletakkan tangan-Nya ke atas mereka, sehingga menjadikan dan mengakui mereka sebagai milik-Nya sendiri.
Pada titik tertentu, peran Yesus bisa juga menjadi peran orang tua. Orang tua bisa menunjukkan peran Yesus yang lemah lembut, penuh kasih pada anak-anak, yang bergembira bersama anak-anak. Orang tua tidak perlu menjadi “singa” bagi anak-anak sehingga anak-anak begitu takut bila mendekati orang tuanya, tidak nyaman dengan orang tuanya. Anak-anak juga bukan menjadi objek penderita dari luapan emosi orang tua, sasaran kekesalan dan kejengkelan orang tua. Orang tua perlu merasa “ada yang hilang”, bila anak  mulai menjauh dari Gereja dan lebih sibuk dengan hal-hal yang lain. Biarkan anak-anak merasa damai dan nyaman bila ada di dekat orang tuanya.

Biarkanlah anak-anak datang pada-Ku, AKU rindu meletakkan tangan-Ku atas mereka, mereka adalah sahabat-KU, amin.